AI Pembunuh di Operasi “Epic Fury” (Bagian I) | Insight

Artikel ini sudah di post di Kompas.com

Kompas.com, 3 Maret 2026

Penulis : Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M. Eng, CISA, ATD

Gambar ini dibuat menggunakan AI

KEHENINGAN yang mencekam menyelimuti Distrik Shemiran, Tehran utara, pada hari itu. Bagi pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, keheningan adalah ilusi keamanan.

Dalam operasi sandi “Epic Fury,” dunia menyaksikan babak baru peperangan: serangan yang tidak sepenuhnya dirancang oleh jenderal di ruang perang, tetapi juga didukung oleh algoritma, kumpulan data, dan kecerdasan buatan (AI) yang bekerja diam-diam di awan digital.

Operasi ini didukung oleh Palantir, perusahaan data mining Silicon Valley. Palantir mengintegrasikan beragam sumber informasi, mulai dari citra satelit, data sensor, hingga laporan intelijen.

Semuanya diintegrasikan ke dalam satu model data terpadu yang dapat membantu analis memahami keterkaitan antar-entitas dan situasi di lapangan. Hal ini digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan.

Di saat Iran memadamkan seluruh komunikasi darat, jaringan satelit rahasia Starshield milik SpaceX berperan sebagai “oksigen digital.”

Starshield mengirimkan gambar beresolusi tinggi dengan kapasitas petabyte dan sinyal elektromagnetik menembus asap pengganggu dalam hitungan detik dan langsung disalurkan ke mesin analisis Palantir.

Sementara itu, model bahasa besar seperti Claude dari Anthropic, meskipun di tengah kontroversi etik, digunakan untuk membaca ribuan jam komunikasi intersepsi dan mensimulasikan skenario pertempuran.

LLM seperti Claude memiliki kemampuan menerjemahkan pesan-pesan berbahasa Persia dengan sangat cepat, nyaris instan.

Dalam peperangan modern, daya hancur masih ditentukan oleh senjata fisik. Namun, keunggulan strategis semakin ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan data, mempercepat analisis berbasis AI, dan memenangkan superioritas informasi.

Dalam banyak doktrin militer kontemporer, kecepatan pengambilan keputusan berbasis data menjadi faktor pembeda utama di medan tempur.

Di era persaingan teknologi global ini, Amerika Serikat berada pada posisi strategis melalui ekosistem perusahaan teknologinya – seperti Palantir Technologies, SpaceX, Anduril Industries, dan Meta Platforms.

Dominasi pada lapisan data, komputasi, dan konektivitas ini memberi supremasi bahkan sebelum konflik fisik terjadi.

Claude: “Otak Jenius” di Balik Tabir Intelijen

Di jantung Operasi “Epic Fury” — serangan terkoordinasi AS dan Israel ke lebih dari 30 target di Iran pada 28 Februari 2026 — terdapat satu elemen yang menjadi perhatian sekaligus kontroversi: Claude, model AI yang dikembangkan oleh Anthropic.

Dalam operasi militer tersebut, Claude tidak bertugas langsung dalam pengambilan keputusan serangan. Namun, perannya tetap signifikan: digunakan untuk penilaian intelijen, identifikasi target, dan simulasi skenario pertempuran — membantu memproses data dalam skala yang sulit dijangkau analis manusia.

Yang menjadikannya ironis, penggunaan ini berlangsung di tengah situasi di mana pemerintahan Donald Trump sebenarnya telah mem-blacklist Anthropic, setelah perusahaan itu menolak sejumlah tuntutan Pentagon — namun kontrak senilai 200 juta dollar AS dengan masa transisi enam bulan membuat Claude masih aktif saat operasi dilancarkan.

Lebih spesifik, versi yang digunakan dalam operasi ini adalah Claude Gov — yang diluncurkan Anthropic pada Juni 2025, khusus untuk kebutuhan keamanan nasional, berjalan di jaringan terklasifikasi melalui kemitraan dengan Palantir dan Amazon Web Services, dengan tingkat keamanan hingga level secret dalam sistem klasifikasi AS.

Claude ditempatkan di jantung jaringan pertahanan karena kemampuannya yang luar biasa dalam pemrosesan bahasa alami (natural language processing), di mana hal ini memungkinkan sistem memproses secara bersamaan dokumen militer berbahasa Persia, rekaman intersepsi komunikasi, dan data open-source dari berbagai platform dalam satu alur analisis terpadu.

Salah satu kemampuan Claude yang paling ditakuti adalah simulasi skenario dan analisis prediktif. Alih-alih membaca laporan setebal ratusan halaman, analis dapat mengajukan pertanyaan langsung kepada sistem.

Bayangkan seorang analis intelijen yang mengetik pertanyaan seperti ini: “Jika kita melumpuhkan pertahanan udara Teheran dalam 30 menit, dan serentak melancarkan serangan dari udara, apa rute pelarian paling mungkin yang akan diambil Khamenei?”

Sistem seperti Claude Gov tidak menjawab seperti mesin pencari — ia menghubungkan ribuan titik data, mulai dari pola pergerakan historis, struktur geografis kawasan, hingga arsip intelijen, lalu menyajikan peta probabilitas bagi analis manusia untuk dikaji lebih lanjut.

Secara teknis, kemampuan ini juga mencakup deteksi anomali dalam pola komunikasi militer — misalnya, absennya seorang komandan dari jalur komunikasi rutin yang bisa menjadi sinyal pergerakan atau pertemuan rahasia.

Output analisis semacam itu kemudian dapat diteruskan ke platform seperti Palantir untuk diverifikasi silang dengan citra satelit.

Seberapa jauh kemampuan ini diterapkan secara spesifik dalam Operasi Epic Fury, hingga kini belum diungkap secara resmi. Namun, peran Claude ini memicu perang dingin di Washington.

CEO Anthropic, Dario Amodei, dilaporkan bersitegang dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Hegseth menginginkan seluruh “batasan etis” dalam Claude dicopot, agar AI ini bisa terintegrasi langsung ke dalam sistem senjata otonom—memberinya wewenang untuk tidak hanya menganalisis, tetapi juga merekomendasikan target secara otomatis.

Ketika Anthropic menolak, Pentagon beralih ke xAI milik Elon Musk yang menjanjikan fleksibilitas lebih besar.

Ironisnya, dalam operasi Epic Fury, Claude versi “terbelenggu” tetap digunakan. Ia mungkin tidak menembak, tetapi ia telah membidikkan senapan dengan begitu akuratnya sehingga peluru terakhir hanya tinggal formalitas.

“Where’s Daddy?”, Algoritma Menjadi Algojo Keluarga

Jika Claude adalah otak strategis dan Palantir adalah sistem saraf pusat yang mengintegrasikan data, maka ada satu lapisan taktis yang mengungkapkan sisi paling kelam dari peperangan berbasis AI: sistem yang dikenal dengan nama “Where’s Daddy?”.

“Where’s Daddy?” adalah sistem algoritmik yang tidak melacak senjata atau kendaraan militer, melainkan relasi kemanusiaan yang paling mendasar: ikatan antara seorang ayah dan keluarganya.

Sistem ini dikembangkan oleh militer Israel, dan didukung oleh infrastruktur teknologi dari perusahaan-perusahaan AS seperti Palantir.

Selain itu, Palantir juga diduga menyediakan teknologi pemrosesan data dan kecerdasan buatan yang digunakan untuk menghasilkan daftar target.

Cara kerjanya mengerikan sekaligus cerdas secara teknologi. Sistem ini menggunakan pendekatan yang mirip dengan kemampuan “ontologi” yang dikembangkan perusahaan seperti Palantir—yaitu memetakan entitas-entitas abstrak menjadi objek yang dapat dilacak dan dihubungkan.

Dalam ribuan terabyte data yang dikumpulkan dari drone, penyadapan komunikasi, sensor gerak, hingga pola pembelian pulsa dan kebiasaan belanja, algoritma belajar mengenali “rumah” dari setiap individu yang masuk dalam daftar target.

“Where’s Daddy?” secara otomatis memonitor kapan seorang target—yang mungkin adalah komandan lapangan, politisi, atau dalam skala lebih besar, pemimpin negara seperti Khamenei—memasuki kediamannya.

Logika di balik sistem ini sangat pragmatis, tetapi juga sangat tidak manusiawi: menyerang target ketika ia sedang berada di rumah bersama keluarganya dianggap “lebih efisien” secara operasional daripada menyerang konvoi militer yang dijaga ketat.

Dalam praktiknya di Gaza, sebagaimana dilaporkan The Guardian dan dikonfirmasi dalam analisis pasca-operasi, sistem ini memungkinkan militer untuk melacak ribuan target sekaligus.

Alih-alih meledakkan rumah kosong atau markas militer yang mungkin telah ditinggalkan, algoritma merekomendasikan waktu serangan tepat ketika target sedang berkumpul dengan istri dan anak-anaknya.

Dalam praktiknya, militer Israel menetapkan ambang batas jumlah warga sipil yang dianggap “dapat diterima” tewas dalam setiap serangan.

Pendekatan ini menunjukkan bagaimana kalkulasi mesin dan efisiensi operasional mengesampingkan nilai kemanusiaan, dengan “collateral damage” atau kematian warga sipil direduksi menjadi sekadar angka dalam persamaan algoritmik.

Dalam operasi Epic Fury melawan Khamenei, logika “Where’s Daddy?” diangkat ke tingkat yang lebih tinggi.

Palantir, dengan kemampuan MetaConstellation-nya, tidak hanya melacak lokasi fisik pemimpin Iran itu.

Ia memadukan data dari ribuan sumber: pola pergerakan pengawal, jadwal kunjungan pejabat, sinyal komunikasi, citra satelit, hingga pola aktivitas di sekitar lokasi-lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian pemimpin tertinggi Iran.

Semua data ini kemudian dianalisis untuk membangun ‘ontologi’—peta relasi yang menghubungkan tempat, waktu, orang, dan peristiwa—yang memungkinkan algoritma mengenali pola-pola aktivitas yang sebelumnya tidak terlihat.

Ketika Khamenei meninggalkan tempat rahasianya untuk pertemuan singkat di kediaman pribadinya, algoritma Palantir yang diperkuat oleh analisis Claude langsung mengenali pola itu sebagai “momen kerentanan”.

Forward Deployed Engineers (FDE) Palantir yang ditempatkan di pusat komando CENTCOM menyesuaikan jadwal satelit MetaConstellation secara real-time, memastikan bahwa cakupan satelit di atas lokasi target dimaksimalkan pada saat kritis.

Dengan koordinasi ini, tidak hanya satu, tapi beberapa satelit dapat diarahkan untuk melakukan pengamatan simultan, memungkinkan validasi silang data secara langsung.

Ketika jendela kesempatan itu terbuka—hanya beberapa menit sebelum Ayatullah Sayyid Khamenei kembali ke bunker—serangan dilancarkan.

Namun, perwakilan Ali Khamenei di India, Dr. Abdul Majid Hakeem Ilahi, memberikan penjelasan yang bertolak belakang. Khamenei tidak pernah tinggal di bunker.

Menurut kesaksiannya, berkali-kali petugas keamanan meminta pemimpin tertinggi Iran itu untuk meninggalkan kantornya dan berlindung di tempat yang lebih aman di kota lain, atau setidaknya di ruang bawah tanah yang telah disiapkan.

Khamenei menolak. Jawabannya menusuk: “Jika kalian bisa memindahkan 90 juta warga Iran ke kota lain, saya akan pindah setelah itu. Jika kalian bisa menyediakan dan membangun ruang bawah tanah untuk semua warga Iran, saya akan masuk ke dalamnya.”

Ia memilih untuk tetap berada di kantornya, di rumahnya, bersama keluarganya. Di sanalah, pada pagi hari, pesawat rezim Zionis dan Amerika menyerang, merenggut nyawanya, istrinya, menantunya, dan beberapa keponakannya.

Kesaksian ini mengungkap fakta pahit sekaligus penting: supremasi data dan AI yang digambarkan sebelumnya tidak berhadapan dengan target yang bersembunyi di bunker bawah tanah yang tak tertembus.

Targetnya adalah seorang pemimpin yang menolak bersembunyi, yang tetap tinggal di rumahnya yang biasa, tanpa perlindungan berarti.

Dengan kata lain, operasi militer paling canggih di dunia, yang didukung oleh algoritma Palantir dan kecerdasan Claude, pada akhirnya digunakan untuk menyerang rumah kediaman pribadi yang nyaris tanpa pertahanan.

Narasi tentang kehebatan teknologi AI dalam menembus “tempat rahasia” atau “lokasi tersembunyi” menjadi sedikit bergeser. Kekuatan AI di sini bukanlah pada kemampuannya menemukan sesuatu yang tak terdeteksi, melainkan pada kepastiannya dalam memverifikasi momen ketika seorang pemimpin memilih untuk tetap menjadi manusia biasa: bersama keluarganya di rumahnya sendiri.

Apa yang dilakukan “Where’s Daddy?” dalam skala taktis, Palantir lakukan dalam skala strategis: menghilangkan perbedaan antara medan perang dan ruang privat, antara kombatan dan sipil. Semuanya direduksi menjadi titik-titik data dalam papan dashboard seorang komandan.

Dalam sistem ini, rumah bukan lagi tempat berlindung yang sakral, melainkan “koordinat kerentanan”.

Seorang ayah yang sedang bermain dengan anaknya bukan lagi pemandangan kemanusiaan, melainkan “konfirmasi visual target”. 

Bersambung, baca artikel selanjutnya: AI Pembunuh di Operasi Epic Fury (Bagian II-Habis)

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/03/03/103608065/ai-pembunuh-di-operasi-epic-fury-bagian-i?page=all#page2.

Editor : Sandro Gatra


Informasi Perusahaan:
PT Sharing Vision Indonesia
Jl. Anggrek No.47, Cihapit, Bandung, Jawa Barat 40114

Shopping cart0
There are no products in the cart!
Continue shopping
0