PHK Massal Tokopedia: Ketika AI Agentic dari China Mengetuk Pintu Kita | Insight

Artikel ini sudah di post di Kompas.com

Kompas.com, 5 Juli 2026

Penulis : Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M. Eng, CISA, ATD

Gambar ini dibuat menggunakan AI

KABAR itu datang cepat dan mengejutkan. Awal Juli 2026, beredar laporan bahwa ByteDance melakukan PHK terhadap sekitar 90 persen karyawan Tokopedia.

Divisi Teknologi, R&D, Trust and Safety, dan Keuangan disebut paling terdampak. ByteDance dikabarkan hanya mempertahankan sekitar 10 persen karyawan untuk proyek yang masih berjalan.

Manajemen TikTok tidak membantah adanya restrukturisasi. Mereka menyatakan tengah menyelaraskan organisasi R&D pada area yang mendorong pertumbuhan jangka panjang. Namun, jumlah pasti karyawan terdampak tidak diungkap.

Yang lebih penting dari angka adalah polanya. Tokopedia dikabarkan sedang dihentikan bertahap dan digantikan Tokopedia Lite.

Versi baru ini dikabarkan sepenuhnya memakai sistem back-end internal TikTok Shop. Hanya antarmuka Tokopedia yang dipertahankan.

Menurut narasumber CNBC Indonesia, lebih dari 450 karyawan teknologi terdampak pada gelombang PHK terakhir.

Narasumber tersebut juga menyebut jumlah engineer yang sebelumnya sekitar 1.100 orang kini tinggal sekitar 35 orang. Pekerjaan mereka dialihkan ke tim ByteDance di luar negeri — terutama di China.

Hipotesis Pertama: AI Agentic dari China

Pertanyaan kunci: bagaimana mungkin platform e-commerce sebesar Tokopedia, dengan puluhan juta pengguna, dikelola oleh tim teknologi yang tersisa sangat kecil?

Salah satu hipotesis yang paling kuat adalah bahwa kemampuan AI Agentic telah memungkinkan efisiensi operasional yang sebelumnya sulit dicapai.

Revolusi AI Agentic yang tengah berlangsung di China berkembang dengan pesat. ByteDance bukan pemain biasa. Mereka memiliki Doubao, salah satu LLM paling populer di China.

Mereka mengembangkan Trae, IDE berbasis AI untuk pemrograman. Mereka merilis UI-TARS, agen AI yang mampu mengoperasikan antarmuka komputer secara mandiri. Mereka juga membangun keluarga model Seed untuk coding dan reasoning.

AI Agentic berbeda dengan chatbot. Chatbot menjawab pertanyaan. Agen AI mengerjakan tugas dari awal sampai selesai. Ia bisa menulis kode, menguji, memperbaiki bug, memantau sistem, menangani tiket pelanggan, dan mendeteksi fraud. Semua berjalan dengan supervisi manusia yang minimal.

Dalam paradigma lama, satu platform e-commerce butuh ratusan engineer untuk maintenance dan operasional harian.

Dalam paradigma agentic, satu engineer senior yang didukung beberapa agen AI dapat menangani pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan beberapa engineer.

Pola yang sudah terjadi sebelumnya

Hipotesis ini tidak berdiri sendiri. Dalam tiga tahun terakhir, ByteDance dan TikTok telah berulang kali melakukan restrukturisasi pada fungsi-fungsi yang semakin banyak didukung oleh otomatisasi berbasis AI.

Jika peristiwa-peristiwa tersebut dibaca sebagai satu rangkaian, tampak adanya pola transformasi organisasi yang konsisten.

Pada tahun 2024, TikTok melakukan PHK terhadap hampir 500 karyawan di Malaysia. Pada tahun yang sama, perusahaan juga memberhentikan seluruh tim moderator kontennya di Belanda yang berjumlah sekitar 300 orang.

Restrukturisasi ini terjadi ketika TikTok semakin meningkatkan penggunaan sistem moderasi otomatis berbasis AI untuk menangani pelanggaran kebijakan dalam skala besar.

Kemudian, pada 2025, TikTok mengganti tim Trust and Safety di Berlin dengan sistem AI dan pekerja kontrak. Kebijakan ini berdampak pada sekitar 150 karyawan.

Tim Trust and Safety sendiri bertugas memastikan video berdurasi pendek yang dipublikasikan di platform tidak mengandung konten berbahaya maupun melanggar kebijakan perusahaan.

Menurut para pekerja, mereka harus meninjau hingga 1.000 video setiap hari, dengan sebagian proses telah dibantu oleh AI.

Pada 2026, selain restrukturisasi di Tokopedia Indonesia, TikTok dikabarkan berencana melakukan PHK terhadap hampir 300 karyawan pada fungsi Quality Assurance (QA) di bawah divisi Trust & Safety di Dublin ini, sekaligus mengkonsolidasikan fungsi tersebut ke hub regional lainnya.

Sebagai bagian dari restrukturisasi yang sama, TikTok menyatakan akan menciptakan ratusan posisi spesialis baru di Dublin yang berfokus pada teknologi keamanan platform.

Langkah ini mengindikasikan adanya pergeseran dari pekerjaan manual menuju fungsi yang semakin berbasis AI.

Bahkan, Jack Chambers, Menteri Pengeluaran Publik Irlandia, menilai bahwa kasus ini mencerminkan ketidakpastian ekonomi akibat semakin besarnya dampak AI terhadap pasar tenaga kerja.

Kemungkinan Lain

Analisis yang jujur harus mempertimbangkan penjelasan alternatif. Setidaknya ada empat.

Pertama, konsolidasi platform klasik. ByteDance mengakuisisi 75 persen saham Tokopedia akhir 2023. Setelah merger, mengoperasikan dua sistem back-end yang melayani fungsi serupa berpotensi meningkatkan biaya dan kompleksitas operasional.

Karena itu, mengonsolidasikan Tokopedia ke back-end global TikTok Shop merupakan langkah yang dapat menghasilkan economies of scale melalui penggunaan satu platform teknologi.

Ini adalah pola yang lazim dijumpai dalam proses merger, dengan atau tanpa AI.

Kedua, offshoring murni. Pekerjaan tidak hilang, hanya pindah ke tim ByteDance di China. Motifnya bisa kontrol teknologi atau efisiensi biaya. Keluhan karyawan bahwa pekerjaan mereka dialihkan ke luar negeri mendukung penjelasan ini.

Ketiga, tekanan margin industri. E-commerce Indonesia sangat kompetitif, Shopee menguasai pasar, dan perang subsidi sudah usai.

Keempat, kombinasi semuanya. Ini yang paling mungkin. AI Agentic menjadi enabler yang membuat konsolidasi dan offshoring bisa dilakukan jauh lebih ekstrem.

Dulu, memindahkan operasi teknologi ke luar negeri tetap butuh tim lokal yang besar. Kini tidak lagi. AI mengubah apa yang mungkin, dan logika bisnis mengeksekusinya.

Apapun penyebab dominannya, taruhannya serius: kedaulatan digital. Tokopedia lahir sebagai kebanggaan startup Indonesia.

Kini back-end-nya dikelola dari luar negeri dan yang tersisa di dalam negeri hanyalah wajah antarmuka. Data transaksi puluhan juta orang Indonesia mengalir dalam sistem yang kendalinya tidak lagi di tangan kita.

Kini, pintu telah diketuk. AI Agentic bukan lagi masa depan yang jauh, melainkan realitas yang sedang berdiri di depan kita.

PHK massal di Tokopedia bukan sekadar cerita korporasi, melainkan alarm peringatan bagi seluruh ekosistem digital Indonesia.

Pemerintah perlu bertindak proaktif dan visioner. Diperlukan kebijakan ketenagakerjaan yang adaptif — program reskilling dan upskilling massal di bidang AI, perlindungan transisi bagi pekerja yang terdampak, serta regulasi yang mendorong perusahaan asing untuk mentransfer pengetahuan dan menciptakan lapangan kerja berkualitas di Indonesia.

Tak kalah penting, kedaulatan data harus menjadi prioritas nasional melalui regulasi yang tegas agar infrastruktur dan data strategis bangsa tidak sepenuhnya dikendalikan dari luar negeri.

Kita bisa meratapi hilangnya lapangan kerja lama, atau kita bisa memilih untuk menjadi pelaku sejarah.

Saat ini, generasi muda Indonesia harus berani belajar lebih cepat, sementara pemerintah dan swasta bahu-membahu membangun talenta AI unggulan serta ekosistem inovasi lokal yang berdaulat.

Mari ubah ancaman ini menjadi momentum. Bangun agen AI kita sendiri, kuasai teknologinya, dan ciptakan platform yang tak hanya melayani, tapi juga memberdayakan bangsa.

Masa depan bukan milik yang paling kuat, melainkan milik yang paling cepat beradaptasi, berani mencipta, dan bijak berkebijakan.

Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/07/05/161500326/phk-massal-tokopedia–ketika-ai-agentic-dari-china-mengetuk-pintu-kita?page=all#page2.

Editor : Sandro Gatra


Informasi Perusahaan:
PT Sharing Vision Indonesia
Jl. Anggrek No.47, Cihapit, Bandung, Jawa Barat 40114

Shopping cart0
There are no products in the cart!
Continue shopping
0