Tak Berlebihan dalam Keriaan Digital

Topics : Digital Business & Technology

Jika periode tahun 2005-2010, riset yang Sharing Vision lakukan sudah mampu menerka bagaimana Indonesia merespons aplikasi digital, maka sejak tahun lalu dan terlebih tahun ini, prediksi itu satu-persatu menemui kenyataan di lapangan dengan kondisi relatif menggembirakan.

Sejak lama, misalnya, riset kami memproyeksikan bahwa e-channel (kanal gaya hidup digital, terutama di sektor finansial dan pembayaran) berkembang luas. Hal ini mulai menyeruak ditandai kian mengakarnya internet/SMS banking serta uang digital di sekitar kita.

Demikian pula soal broadband anyspace dan broadband lifestyle, dimana masyarakat Indonesia urban sudah kian bergantung internet kecepatan tinggi — terutama berbasis serat optik dan LTE — untuk kesehariannya. Otomatis, fungsinya tak sebatas pekerjaan, namun meluas ke gaya hidup.

Maka lahirlah pengakuan amat tinggi pada Gojek, Olx, Tokopedia, Foodpanda, hingga berbagai layanan startup semacam rumah123 (jual-beli-sewa properti), zenius-kelase (bimbingan belajar), Orori (perhiasan), bahkan sampai pembantu.com (asisten rumah tangga).

Sharing Vision sudah memproyeksikan dari beberapa tahun lalu, bahwa pembeli daring (dalam jaringan/online) tahun 2012 hanya 3,1 juta dari total pengguna internet 59,6 juta namun jadi 4,6 juta pembeli dari 72,8 juta (tahun 2013), dan 5,9 juta pembeli dari 83,7 juta (tahun 2014).

Prediksi ini mendekati kenyataan. Sebab, sebagaimana dilansir Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kementerian Perdagangan, kenaikan bisnis e-dagang tahun 2015 naik tiga kali lipat dari tahun 2012 dengan estimasi numerik 20 milyar dollar!

Belum dengan yang paling massal dan mengakar, yakni berjualan menggunakan akun media sosial dan pesan instan. Dari mulai bawang goreng, kue lebaran, hingga mukena Idul Fitri, masyarakat Indonesia menjual dengan memasang fotonya di akun tersebut.

Maka itu, dalam hemat penulis, keriaan digital sudah terjadi di negeri kita. Sekalipun belum merata seluruh negeri terjadi imbas perbedaan infrastruktur, namun layanan minimum teknologi informasi komunikasi (TIK) sudah menjangkau semua.

Untitled-18

Keriaan digital ini juga ditandai dengan pintu masuk yang tak ada lagi sekat namun berbuah berkali lipat. Tukang ojek ataupun ibu rumah tangga sekalipun, berkat TIK, kini memiliki peluang memperoleh pendapatan setara karyawan perusahan.

Bahkan sambil tetap kewajiban mengurus rumah tangga dan anak terjaga, seorang istri bisa memperoleh pendapatan dari rumah dengan hanya mengandalkan aplikasi pesan instan, sehingga bisa mengurangi beban suami yang seorang karyawan perusahan.

Nah, keriaan digital ini telah menawarkan sisi efisiensi yang sangat baik, mungkin bisa menggerus bisnis konvensional yang tak berbenah. Namun percayalah, yang manual tidak akan langsung bangkrut seketika ketika keriaan ini terus terjadi.

Ketika sektor pertanian tradisional di Indonesia berubah menuju sektor modern (industri), tidak sejurus itu pula sawah, kebun, dan kolam ditinggalkan. Keriaan sektor industri kala itu tetap takkan bisa merubah kebutuhan manusia di sektor pangan.

Demikian pula saat ini. Manakala fase padat karya (labor intensive) berkembang jadi fase padat teknologi dan atau modal (capital intensive), maka didalamnya menyuratkan perpindahan pola kerja berbasis alat analog menuju kerja disokong aplikasi digital.

Untuk itulah, sebagaimana perubahan fase selalu disertai masa transisi, yang sangat diperlukan adalah kesiapan mental dan sikap pikir. Terutama di penghujung bulan puasa dan mendekati Idul Fitri 1436 Hijriah, keriaan digital ini harap disikapi bijak.

Satu yang utama adalah mengikis sifat lupa waktu dan konsumtivisme. Kemudahan dalam genggaman saat ini membuat kita asyik dengan dunia sendiri, sehingga lingkungan sekitar, bahkan keluarga, menjadi kadang/sering terabaikan.

Sering terlihat, meski dalam satu meja makan bersama, percakapan hangat hanya terjadi beberapa menit awal. Selebihnya menunduk melihat layar, malah bercakap dengan orang jauh di gawai-nya, lalu saat diajak bicara malah menjawab tak nyambung.

Dalam contoh lain, robohnya sekat juga membuat siapapun bisa beraktivitas tanpa terkontrol. Saking mudahnya jualan hari ini, boleh jadi malah lupa beribadah, saking gampangnya promosi dan cari duit mungkin berjualan pun tak kenal waktu dan hari.

Sikap-sikap semacam ini jika terus dibiarkan gilirannya bisa menciptakan kerusakan relasi personal dan sosial. Padahal, sebagaimana ditekankan dalam Surat Alqashash ayat 77, Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Kemudian terkait konsumtivisme, sebagaimana diajarkan oleh Surat Al-Isra ayat 26 dan 27, maka jangan sampai berbagai kemudahan dari keriaan digital ini bisa melenakan seseorang. Keriaan, atau pesta, dimanapun kerapkali membuat lupa daratan.

Karena merasa kapanpun gampang membeli baju di toko digital, belanja pun sesukanya tanpa melihat prioritas kebutuhan. Gawai kita yang sebenarnya masih andal dan berfungsi baik, tetapi karena melihat aneka kemudahan tadi, terjadilah pembelian impulsif.

Ini yang harus diakui, keriaan digital ini membuat banyak masyarakat terjebak membeli keinginan, bukan kebutuhan! Sekalipun memaksakan berutang melalui kartu kredit, akhirnya memaksakan membeli berbagai produk model terbaru agar tetap eksis.

Laa tusrifuu wa laa tabzir! Janganlah berlebih-lebihan, janganlah boros, demikian berulang Allah Swt menyuruh hamba-Nya dalam berlaku sehari-hari. Esensi puasa yang kita jalani hampir sebulan ini pun seragam: Aktivitas mengekang hawa nafsu.

Mari pastikan kita menjadi bagian teruntung dari era keriaan digital ini, yakni yang bersikap seimbang, merasakan betapa praktisnya hidup berkat TIK, seraya tetap terjaga seluruh relasi dan tindakan dari kesia-sian. Pembaca detikinet.com, Selamat Idul Fitri 1436 H. Minal Aidzin Walfaizin!

Penulis, Dr. Dimitri Mahayana adalah Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Bandung. Bisa dihubungi melalui dmahayana@sharingvision.com

Artikel ini juga dapat dilihat pada laman inet.detik.com.

 

See all related posts (15)