Bahaya Dibalik Advance Persistent Threat (APT)

Topics : An Insight

Selalu ada sisi negatif yang membayangi kemajuan teknologi informasi. Cyber Security menjadi hal yang sangat penting di masa kini. Berbagai metoda serangan dunia maya bermunculan, salah satunya adalah Advance Persistent Threat (APT).

APT dapat menyerang individu, organisasi bahkan server suatu negara. Ancaman ini memiliki tujuan beragam, seperti komersil/hacking atau mencuri data/informasi strategis dari sebuah negara. Berbeda dengan ancaman lain, APT bersifat menyerang secara berulang-ulang pada waktu lama, dapat beradaptasi terhadap upaya defender, dan dapat mempertahankan tingkat interaksi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tujuaanya.

(sumber : sharingvision.com)

(sumber : sharingvision.com)

“APT itu seperti kanker, tidak seperti virus lainya yang sudah memiliki pola. APT bisa berdiam di komputer selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Sangat sulit untuk mendeteksi APT,” ungkap Prof. Jhon Choi, Chief Officer Executive MaerAny saat sesi Talk Show CYSE Conference.

Menurut Sarwono Sutikno, Dr. Eng., CISA, CISP, CISM, perang cyber berbeda dengan perang biasa. Salah satunya adalah serangan yang mengarah pada penggunaan vilnerability (kelemahan untuk bisa masuk pada sistem. Cara mengatasinya adalah dengan terus melakukan riset atau penelitian sebanyak mungkin, namun tidak mengumumkan dan mengeksploitasinya.

“Orang Indonesia bisa berperan dalam kendali APT. Caranya, APT benar-benar dipelajari, lalu tentukan cara kontrolnya,” ucap Sarwono.

Seperti cara mencegah kanker dengan menjaga kondisi tubuh, APT dapat dihindari dengan terus mengamati sistem secara waspada dan aktivitas yang berlangsung. Beberapa perusahaan di Amerika telah berupaya untuk menentukan semua aktivitas dan sistemnya. Dengan demikian, jika ditemukan aktivitas atau sistem baru yang tidak diduga, maka aktivitas atau sistem tersebut akan dipisah ke tempat lain.

“APT ini adalah isu yang masih baru, tetapi jika ‘badan’ (sistem) Anda sehat, semestinya kemungkinan terjangkit ancaman ini rendah. Demikian pula jika sistem ‘imun’ (pertahanan) terhadap intrusi, Anda bisa menekan kemungkinan ‘dibobol’,” pungkas Choi.(**)