Kecanduan Game Bisa Meningkatkan Penderita ADD

Topics : An Insight

Hati-hatilah jika anak Anda mulai kecanduan main game. Pasalnya, game addiction menyebabkan user mengalami orientasi buruk hingga meningkatkan penderita ADD (Attention Deficit Disorder). Seperti apa gejalanya?

Berdasarkan hasil survey Entertainment Software Association(ESA), sekitar 25% orang tua tidak membatasi penggunaan Internet oleh anak-anak mereka, dan 17% orang tua lebih khusus tidak membatasi waktu anak mereka bermain computer game dan video game.

Lalu, survey oleh Seoul’s National Information Society Agency dan Korea’s Ministry of Gender Equality and Family, menunjukan bahwa lebih dari 1 dari 10 remaja Korea beresiko tinggi terhadap Internet addiction. Dan, 1 dari 20 telah teradiksi secara serius. Di Amerika, 4% gamers adalah extreme user dan rata-rata bermain 50 jam per minggu. Sementara 8.5% remaja Amerika telah adiksi bermain video games.

Game addiction menyebabkan user (anak-anak dan remaja) mengalami orientasi buruk. Kasus di Jepang, seorang remaja 19 tahun menghabiskan hingga 1 juta Yen untuk bermain online game, menghabiskan uang dari orang tua, hasil kerja part time, hadiah hingga meminjam bank.

Dampak buruk lain pada remaja di Amerika. Disebutkan National Survey of Student Engagement 2011, pada 27,000 pelajar, bahwa 1 dari 3 remaja laki-laki dan 1 dari 4 remaja wanita bermain computer games lebih dari 16 jam per minggu, ditengarai memiliki nilai SAT yang lebih rendah dan nilai sekolah lebih rendah. Di Cina ada pasangan suami istri yang teradiksi game hingga menjual anaknya agar bisa membayar biaya untuk bermain game.

Dampak buruk game addicted bermula dari ADD, dimana gamers akan kehilangan fokus pada lingkungan sekitarnya. Kemudian meningkat pada makin lemahnya hubungan alamiah dengan manusia lain seperti keluarga dan rekan kerja, dan sebagainya. Lemahnya hubungan dengan sesama manusia, dapat menyebabkan gamers mulai turun kepedualian sosialnya, dan berdampak pada hancurnya social skill (inter/intra personal) yang dimiliki. “Semua hal tadi dapat mengurangi peluang seseorang untuk hidup bahagia dan meraih sukses dalam hidup,” ujar Dimitri Mahayana, Chairman Sharing Vision—lembaga riset telematika.

Menurut Dimitri, addicted gamers akan lebih nyaman hidup di dunia virtual yang ia ciptakan dan tidak menutup kemungkinan tenggelam dalam lingkungan serta karakter yang ada di dalam dunia virtual game yang ia mainkan. Dalam tahap ini, jika game kekerasan yang menjadi pilihan, maka sangat berbahaya dampak yang akan timbul. Kasus penembakan oleh siswa sekolah menengah di Amerika, dimana 2 pelaku membunuh 13 orang temannya, dan melukai 23 lainnya, diawali oleh kegemaran pelaku terhadap game Doom, yang menyuguhkan kekerasan.

Untuk menghindari dampak buruk dan menghindari adiksi terhadap game, Dimitri menyarankan beberapa langkah yang mesti dilakukan para orang tua. Antara lain membatasi waktu anak-anak bermain game, mengarahkan anak untuk memperbanyak aktifitas social dan bermain bersama teman-temannya, memberikan akses untuk game online sebagai hak istimewa anak, bukan otomatis, memberikan alternatif kegiatan menarik lain kepada anak, menginstal membatasi dan mengontrol jenis game yang boleh dimainkan oleh anak-anak, dan sebagainya.

by a. mohammad bs

sumber