Menggerakkan e-Payment Nasional via Transportasi

Topics : Expert Article
Sumber foto: http://farm4.static.flickr.com

Begitu menginjakkan kaki di Bandara Changi atau Pelabuhan HarbourFront, Singapura misalnya, boleh jadi salah satu benda yang pertama kali dicari wisatawan adalah EZ Link Card yang dirilis Land Transport Authority (LTA).

Mengapa? Dengan satu kartu itu di tangan, maka perjalanan ke lokasi manapun di negara Singa itu akan berjalan praktis, sederhana, dan aman. Juga, biaya yang dikeluarkan jauh lebih murah berkali-kali lipat dibandingkan tak menggunakan kartu ini.

Prakteknya, dengan sistem contactless reader di dalamnya, kartu yang dibeli tinggal didekatkan pada alat sensor yang biasanya diletakkan pada gerbang pintu masuk stasiun kereta bawah ataupun pintu masuk bis yang akan digunakan.

Begitu didekatkan, pintu tadi akan otomatis terbuka sekaligus memotong saldo dari nilai kartu yang dipilih. Untuk mengecek sisa, masyarakat bisa mendatangi berbagai loket elektronik yang jumlahnya diperkirakan mencapai 10.000 titik.

Di sisi lain, EZ Link juga jadi alat pembayaran tol/electronic road pricing dan parkir/electronic parking system yang direkomendasikan pemerintah. Belum lagi dengan tawaran diskon musiman yang pasti membuat orang berpikir ulang menggunakan kendaraan pribadi.

Bayangkan saja. Menaiki kereta bawah tanah mutakhir yang on time di sana –lazim disebut Mass Rapid Transportation/Tube/Subway– tarif diskonnya bisa hanya 0,6 dollar Singapura/sekitar Rp 4.200 per perjalanan ke semua rute perjalanan!

Dan ini semua bisa mudah diperoleh sejauh mata memandang. Dimanapun dan kemanapun Anda hendak melangkah, loket penjualannya tersebar merata pada berbagai tempat publik, mulai dari terminal, obyek wisata, hingga pujasera.

Sejak muncul di tahun 2001, berdasarkan catatan Sharing Vision, EZ Link tumbuh pesat menjadi aplikasi pembayaran elektrik/e-payment skala mikro yang bukan hanya dibutuhkan warga negara disana, tapi juga oleh mereka para kaum pendatang.

Hingga saat ini telah beredar 10 juta kartu aktif, meski warga negara Singapura sendiri hanya 5 juta orang (estimasi kepemilikan 2 kartu per orang). Dengan rasio ini, rata rata perjalanan harian pemegang kartu mencapai 0,6 kali per orang untuk kategori bus.

Tingkat perjalanan kategori MRT sendiri mencapai 0,36 kali per hari per orang. Pencapaian ini dinilai sebagai terobosan terbaik dalam sistem transportasi Singapura sejak tahun 1970, sehingga LTA memperoleh Singapore Quality Award (SQA) 2009 lalu.

e-Payment Mikro di Indonesia

Negeri ini sebenarnya tak kalah modern dalam urusan e-payment mikro. Kartu Prabayar Bank Mandiri misalnya, sudah bisa digunakan membayar tol atau biasa disebut e toll card. Demikian pula Flazz dari BCA yang familiar dan menguasai pembayaran ritel.

Masing-masing pelanggan kartu prabayar Mandiri dan Flazz BCA kini mencapai kisaran 500 ribu dan 2 juta. Ada pula Telkomsel Cash serta Dompetku Indosat yang keduanya fokus dalam e-payment skala mikro di Indonesia.

Akan tetapi, berdasarkan riset kami, statistik jumlah pengguna e-payment ini masih sangat kecil jika dibandingkan potensinya. Bahkan, jika dibandingkan transaksi sejenis dalam anjungan tunai mandiri (ATM), layanan ini juga kalah amat jauh.

Setiap harinya, terjadi sekitar 5,5 juta transaksi di ATM dengan perkiraan nominal penarikan uang sedikitnya Rp5 triliun! Oleh karenanya, dalam hitungan kasar, jumlah transaksi e-payment di Indonesia hanya 1/1000 dari transaksi anjungan tunai mandiri.

Situasi ini amat disayangkan, meski hanya menggunakan satu pendekatan parameter. Contohnya pengguna busway yang setiap harinya mencapai 250 ribu orang hanya di Jakarta, ini belum dengan jutaan pengguna transportasi umum di kota lainnya.

Menilik situasi ini, Sharing Vision berkeyakinan menggelar workshop guna membahas e-payment mikro berbasis kartu sekaligus studi banding langsung ke pengelolanya di Singapura 25-26 April ini, guna memperoleh best practise.

Opini penulis berkesimpulan, setidak-tidaknya ada dua hal utama yang harus dilakukan agar layanan serupa EZ Link sukses dan membumi di Indonesia. Pertama, layanan harus massif disediakan pada kebutuhan harian masyarakat semacam transportasi.

Dengan mendekatkan pada mobilitas masyarakat yang sulit disubsitusi ini, maka masyarakat mau tak mau akan menggunakannya. Jadi harus bisa digiring jika tidak menggunakannya, maka selain menyulitkan aktivitas, akan pula menuntut bea mahal.

Prinsip ini akan mendorong ketersediaan sarana dan prasarana memadai. Misalnya loket penjualan peranti yang tersebar luas dan mudah ditemukan. Sederhananya, jumlahnya bisa sama mudah didapatkan seperti keberadaan ATM saat ini.

Mendekatkan pada layanan transportasi juga akhirnya akan menciptakan skala ekonomi tinggi. Bayangkan saja perputaran uang dari bisnis busway di Jakarta. Dengan skala ekonomi tinggi, otomatis biaya yang harus dibayar bisa efisien.

Maka dengan sendirinya, sebagai sebuah bagian mekanisme pasar, efisiensi dan skala ekonomis ini akhirnya akan memungkinkan hadirnya berbagai insentif seperti diskon dari EZ Link. Ingat, orang Indonesia senang layanan diskon-gratis.

Kedua, menaikkan standar lebih tinggi dari layanan m-payment yang ada. Harus diakui, tingkat kehandalan dan terutama interoperabilitas yang ada saat ini belum optimal. Masih sering terdengar nada kecewa akibat kegagalan transaksi.

Saat dikenalkan ke publik, sebaiknya layanan sudah memiliki rata-rata keberhasilan transaksi di atas 95%.Dengan demikian, tak terdengar istilah kapok apalagi trauma pada layanan pembayaran elektrik yang tergolong cara baru di Indonesia.

Demikian pula dengan interoperabilitas, keterpaduan dengan layanan lain. M-payment mikro di Indonesia saat ini masih kental aroma persaingan dan ego sektoral, sehingga masyarakat cenderung didorong berganti layanan dulu agar bisa menikmati. Mari bergerak! (**)

* Dipublikasikan di Detikinet, Senin 18 April 2011