Sharing Vision Hadiri Bandung–Petaling Jaya Knowledge Exchange: Mendorong Kolaborasi Kreatif di Tingkat Regional | Insight

10 Juli 2026, pukul 09:00–12:00 WIB · Pullman Bandung Grand Central, Bandung.

Sesi diskusi panelis sesi 3 FGD “Bandung-Petaling Jaya Creative City Knowledge Exchange Forum 2026” di Pullman Bandung.

Energi Komunitas dan Orkestrasi: Menjaga Nafas Bandung sebagai Kota Kreatif

Pada Jumat, 10 Juli 2026, Team Sharing Vision berkesempatan berkunjung ke Bandung-Petaling Jaya Creative City Knowledge Exchange Forum 2026, Pullman Bandung Grand Central, mempertemukan pemangku kepentingan Kota Bandung dengan Delegasi Petaling Jaya (Malaysia).

Forum diskusi ini mempertemukan berbagai pilar utama ekosistem ekonomi kreatif Kota Bandung—mulai dari penggerak komunitas, pelaku industri film, pengembang game, hingga inovator tata ruang dan kuliner—dengan delegasi pemerintah dari Petaling Jaya, Malaysia. Sejak awal diskusi, satu tesis utama mengemuka dengan sangat jelas: status Bandung sebagai Kota Kreatif dunia bukanlah hasil cetak biru instan dari pemerintah, melainkan buah dari pergerakan organik, sejarah panjang komunitas, dan kolaborasi yang lahir dari “keresahan bersama” warga kotanya.

Sesi diskusi panel ketiga yang mengangkat tema “Creative Economy Ecosystem and Industry Development” ini menghadirkan perwakilan kunci lintas sektor kreatif. Para panelis tersebut di antaranya adalah Dita (Focal Point untuk jejaring UNESCO Creative Cities di Bandung), Galih (Penggerak Place-making dan Komunitas), Dhani (Panas Dalam Pictures / Sektor Film), Mikhail Martin (Sektor Game & Animasi), serta Ichan (Sektor F&B dan Ruang Kreatif).

DNA Komunitas dan Cipta Ruang

Kang Galih membuka perspektif fondasional bahwa ciri khas utama ekosistem kreatif Bandung di mata dunia adalah kekuatan komunitasnya. Budaya berkomunitas ini bukanlah hal baru, melainkan telah menjadi kebiasaan lintas generasi, mulai dari komunitas fotografi yang eksis sejak 1924, pergerakan distro oleh musisi independen, hingga inisiatif ruang publik. Galih memperkenalkan konsep “Place-making” atau cipta ruang, di mana ruang fisik bertemu dengan budaya menjadi ruang otentik, dan ketika bertemu ekonomi, ia menjadi industri kultural yang kompetitif. Contoh nyatanya adalah transformasi bangunan terbengkalai seperti bekas pabrik sabun di Cibadak, Laswee Heritage (bekas gudang kereta api), hingga The Hallway Space di Pasar Kosambi yang semuanya digerakkan secara organik oleh komunitas.

Teh Dita menambahkan konteks historis. Momentum penting terjadi pada medio 2007-2008 ketika banyak anak muda Bandung kembali dari studi luar negeri dan berhadapan dengan infrastruktur kota yang buruk. Alih-alih sekadar protes, mereka melakukan “nongkrong produktif” dan menciptakan solusi bersama. Puncaknya adalah inisiatif kolektif seperti Helafest pada 2008 yang berhasil menyatukan puluhan acara komunitas dalam satu bulan, menciptakan gaung besar yang membuktikan bahwa kolaborasi dapat menghasilkan dampak masif.

Film: Ekosistem Kolosal dan Dampak Ekonomi Terusan

Dari kacamata industri, Kang Dhani menyoroti bagaimana ekosistem Bandung mematangkan sektor perfilman. Keberhasilan waralaba film Dilan (2018), yang memecahkan rekor nasional dan mengubah lanskap kepercayaan penonton terhadap film lokal, adalah bukti nyata kematangan ekosistem ini. Di Bandung, sebuah karya bisa memiliki perjalanan yang utuh dari sebuah buku teks, diadaptasi menjadi film, hingga bermuara menjadi produk turunan (seperti fesyen dan makanan) berkat dukungan hulu ke hilir.

Lebih jauh, produksi film di Bandung menciptakan efek domino ekonomi yang luar biasa. Berbeda dengan Jakarta, syuting di Bandung terintegrasi dengan infrastruktur pariwisata; pemain dan kru turut menghidupkan sektor wisata dan UMKM setempat. Hal ini diperkuat oleh infrastruktur pendidikan, di mana Bandung mencetak ratusan lulusan film setiap tahunnya, serta konektivitas transportasi modern (Kereta Cepat Whoosh) yang mengakselerasi iklim investasi dan kolaborasi dengan rumah produksi besar.

Game dan Animasi: Tantangan Kekayaan Intelektual

Kondisi berbeda dihadapi oleh sektor game dan animasi yang dipaparkan oleh Kang Mikhail. Sektor ini masih terjebak di antara idealisme menciptakan Kekayaan Intelektual (Intellectual Property/IP) sendiri dan realitas bisnis outsourcing. Banyak pembuat game lokal kesulitan menembus pasar domestik yang didominasi oleh raksasa korporasi internasional di platform mobile, sehingga mereka terpaksa menyasar pasar luar negeri.

Secara kompetitif, tenaga kerja game Indonesia jauh lebih murah (rata-rata $500/bulan) dibandingkan Malaysia ($1200/bulan). Sayangnya, ekosistem studio raksasa belum banyak melirik Bandung dibanding Jakarta atau Petaling Jaya. Mikhail menekankan bahwa kreator lokal tidak bisa lagi hanya menjadi seniman murni; mereka harus mengadopsi pola pikir bisnis, dan investasi terbaik dari pemerintah seharusnya dialihkan pada program penempatan langsung bakat-bakat ini ke dalam studio agar mereka belajar praktik industri secara nyata.

Tanya-Jawab dari Kursi Pendengar: Hadapi AI dan Dinamika Birokrasi

Sesi interaktif berjalan dinamis dengan pertanyaan tajam dari peserta. Ibu Fony, seorang pelaku kriya (handmade), menanyakan posisi kerajinan tangan lokal di tengah gempuran Kecerdasan Buatan (AI). Dita dan Galih merespons bahwa teknologi baru adalah sesuatu yang tak bisa dihindari (inevitable), namun AI hanya akan sepintar manusia yang mengendalikannya. Dalam industri kreatif, AI dapat dimanfaatkan untuk efisiensi teknis tanpa menghilangkan etika, nilai budaya, dan esensi buatan tangan manusia, selama diregulasi dengan baik untuk melindungi Hak Kekayaan Intelektual.

Pertanyaan krusial lainnya datang dari Nasiha (delegasi Petaling Jaya) yang menanyakan posisi pemerintah dan tantangan menjadi mediator antara pemerintah dan komunitas. Teh Dita secara terbuka menjelaskan bahwa tantangan terbesar mempertahankan status Kota Kreatif UNESCO adalah perubahan lanskap politik. Prioritas dan alokasi anggaran bisa bergeser drastis seiring bergantinya kepemimpinan setiap lima tahun. Oleh karena itu, penting agar inisiatif kreatif dikunci dalam Rencana Kerja Pemerintah yang resmi, serta mempertahankan peran komunikator independen agar mesin ekosistem tetap berjalan terlepas dari siapa pemimpin politiknya.

Sintesis: Infrastruktur, Talenta, dan Ekosistem

Menjawab pertanyaan mengenai alokasi investasi ideal jika anggaran pemerintah terbatas, para panelis sepakat pada satu muara: Investasi pada Talenta. Kang Ichan menegaskan pentingnya menjahit kolaborasi lintas disiplin (misalnya, mempertemukan mahasiswa desain dengan ahli bisnis kuliner) untuk membentuk mentalitas tahan banting. Mikhail mendorong investasi dalam bentuk subsidi pemagangan langsung di studio game, sementara Dhani menitikberatkan pada stimulus dana untuk pendidikan dan produksi film pendek mahasiswa, yang terbukti memutar roda ekonomi hingga ke level UMKM.

Penutup dan Seruan Aksi: Kolaborasi Lintas Negara

Forum ini ditutup dengan kesepakatan untuk mewujudkan kolaborasi nyata (bukan sekadar pertukaran teori) antara Bandung dan Petaling Jaya. Kang Ichan menawarkan program Walking Your Life Through Discoveries berupa “Taste Exchange” (pertukaran eksplorasi kuliner otentik), sementara sektor film menawarkan pertukaran penayangan layar dan penyelenggaraan festival film mahasiswa tingkat Asia Tenggara. Melalui orkestrasi yang berlandaskan empati dan kolaborasi, Bandung tidak hanya mempertegas posisinya sebagai Kota Kreatif, tetapi juga siap menjadi episentrum yang menginspirasi kota-kota lain di Asia

Tentang Sharing Vision

PT Sharing Vision Indonesia adalah perusahaan riset dan konsultasi teknologi informasi yang berdiri di Bandung sejak 2001. Dengan pengalaman lebih dari dua dekade, kami menyediakan layanan konsultasi dan solusi TI, pelatihan dan sertifikasi, serta penyediaan talenta digital. Lebih dari 100 klien dari sektor perbankan, keuangan, telekomunikasi, energi, kesehatan, BUMN, dan pemerintahan telah memercayakan kebutuhannya kepada kami. Kami berkomitmen mendampingi transformasi digital dan pertumbuhan berkelanjutan para klien, sekaligus turut memperkuat ekonomi inovatif Indonesia.


Informasi Perusahaan:
PT Sharing Vision Indonesia
Jl. Anggrek No.47, Cihapit, Bandung, Jawa Barat 40114

Shopping cart0
There are no products in the cart!
Continue shopping
0