Artikel ini sudah di post di Kompas.com
Kompas.com, 30 Juli 2026
Penulis : Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M. Eng, CISA, ATD

Gambar ini dibuat oleh AI.
DALAM waktu kurang dari satu tahun, harga memori meningkat lebih dari empat kali lipat.
Pada September 2025, kit memori DDR5 32 GB dengan spesifikasi 6000 CL30 dijual sekitar 129 dollar AS di pasar Amerika Serikat. Pada Juli 2026, produk dengan spesifikasi yang sama dijual sekitar 567 dollar AS.
Platform pemantau harga hardware DropReference menghimpun lebih dari 1.500 varian kit DDR5 di sembilan pasar, dengan lebih dari 215.000 catatan harga sejak bulan Agustus 2025.
Data hingga akhir Juli 2026 menunjukkan bahwa harga memori di seluruh pasar yang dipantau masih jauh di atas level pra-krisis.
Inggris mencatat kenaikan tertinggi, yakni sekitar 4,95 kali lipat. Disusul Spanyol dan Italia masing-masing sekitar 4,70 kali, Jerman 4,69 kali, Perancis dan Belgia sekitar 4,67 kali, Australia sekitar 4,3 kali, serta Amerika Serikat sekitar 4,13 kali dibandingkan level pra-krisis.
Meski harga di Amerika Serikat mulai menunjukkan tren penurunan setelah mencapai puncaknya pada Maret 2026, nilainya tetap belum kembali ke tingkat sebelum krisis.
Artinya, belum ada satu pun dari sembilan pasar yang dipantau DropReference yang telah kembali ke harga pra-krisis.
Data tersebut juga penting untuk meluruskan informasi yang beredar di media sosial. Tidak sedikit unggahan yang menyebut harga memori melonjak hingga sepuluh kali lipat.
Namun, berdasarkan data DropReference, kenaikan tertinggi yang tercatat untuk satu profil produk di pasar Eropa mencapai sekitar 443 persen, atau sekitar 5,4 kali lipat.
Lonjakan itu terjadi pada modul DDR5 overclocking kelas atas yang oleh DropReference disebut sebagai showcase teknologi overclocking.
Karena itu, klaim kenaikan harga hingga sepuluh kali lipat lebih tepat dipahami sebagai kasus yang sangat spesifik pada titik pasokan tertentu, bukan sebagai gambaran kondisi pasar secara keseluruhan.
Perbedaan ini bukan sekadar persoalan statistik, tetapi juga penting dalam penyusunan anggaran investasi.
Menggunakan asumsi kenaikan harga yang terlalu tinggi dapat membuat proyek yang sebenarnya masih layak terlihat tidak ekonomis.
Berdasarkan kondisi pasar saat ini, kisaran yang lebih realistis untuk perencanaan adalah kenaikan sekitar 4-5 kali lipat untuk memori konsumen, 2-3 kali lipat untuk DRAM server berbasis kontrak, sekitar 15–25 persen untuk harga server secara keseluruhan karena komponen memori menyumbang sekitar 20–30 persen dari total biaya produksi (bill of materials), serta sekitar 5–10 persen untuk tagihan layanan cloud.
Uangnya mengalir ke mana?
Presiden sekaligus Kepala Divisi DS (Device Solution) Samsung, Kim Yong-kwan, mengatakan kepada karyawannya bahwa laba operasi divisi semikonduktor tahun 2026 diperkirakan akan melampaui total laba operasional perusahaan selama 40 tahun terakhir sejak Samsung memasuki bisnis semikonduktor. Empat dekade kerja, dilewati oleh dua belas bulan.
Analis memperkirakan laba operasional Samsung pada kuartal II 2026 dapat mencapai sekitar 61,3 miliar dollar AS, sementara sepanjang tahun diproyeksikan menembus 217,4 miliar dollar AS.
Jika proyeksi tersebut tercapai, laba operasional kuartalan Samsung akan melampaui laba operasional Nvidia pada kuartal I 2026 sebesar 59,2 miliar dollar AS.
Di kuartal pertama 2026, divisi semikonduktor menyumbang sekitar 94 persen dari seluruh laba operasi Samsung.
Dominasi tersebut menunjukkan bahwa bisnis memori menjadi mesin utama pertumbuhan laba Samsung, jauh melampaui kontribusi bisnis ponsel maupun elektronik konsumennya.
SK hynix juga diproyeksikan mencatat kinerja yang sangat kuat. Berdasarkan konsensus analis yang dihimpun Yonhap Infomax dari 14 perusahaan sekuritas lokal, perusahaan tersebut diperkirakan membukukan rekor laba operasional sebesar 64,1 triliun won (43,7 miliar dollar AS) pada kuartal II 2026, dengan penjualan mencapai 84,1 triliun won.
Kinerja tersebut mencerminkan margin laba operasional sekitar 75–77 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan sekitar 75 persen pada kuartal pertama.
Jika proyeksi ini terealisasi, laba operasional SK hynix pada kuartal II 2026 saja akan melampaui laba operasional yang dibukukan perusahaan sepanjang 2025.
Tiga tahun lalu, pada kuartal II 2023, SK hynix masih membukukan margin operasi minus 39 persen. Perubahan dari rugi besar menjadi margin operasi sekitar 75–77 persen hanya dalam tiga tahun menggambarkan betapa ekstremnya siklus bisnis industri memori.
Tidak mengherankan jika para produsen kini jauh lebih berhati-hati dalam menambah kapasitas produksi.
Pemindahan antrean, bukan kelangkaan
Istilah kelangkaan kurang tepat karena mengesankan adanya gangguan produksi. Faktanya, tidak ada gempa, kebakaran pabrik, maupun embargo bahan baku yang menyebabkan pasokan memori menyusut.
Yang terjadi adalah perubahan alokasi produksi. Produsen mengalihkan kapasitas wafer (lempengan silikon yang menjadi bahan dasar pembuatan chip) ke produk bernilai lebih tinggi seperti High Bandwidth Memory (HBM) dan SSD untuk pusat data.
HBM membutuhkan kapasitas wafer yang lebih besar dibandingkan DRAM konvensional, sehingga pergeseran produksi yang relatif kecil saja dapat mengurangi pasokan memori untuk pasar konsumen secara signifikan.
Dengan kata lain, pasokan tidak hilang, tetapi bergeser ke segmen yang bersedia membayar lebih mahal.
Implikasinya penting. Kelangkaan akibat gangguan produksi biasanya berakhir ketika penyebabnya berhasil diatasi.
Sebaliknya, pergeseran alokasi produksi baru akan berubah ketika insentif ekonominya ikut berubah.
Selama pasar AI masih mampu menghasilkan margin laba sekitar 75 persen, produsen tidak memiliki alasan bisnis yang kuat untuk mengalihkan kembali kapasitas wafer ke DRAM yang digunakan pada perangkat konsumen, termasuk ponsel di kisaran harga Rp 1,5 juta.
Jefferies Equity Research memperkirakan harga memori akan terus meningkat sebesar 40–50 persen pada kuartal III-2026 dibandingkan kuartal sebelumnya (QoQ), disusul kenaikan 30–40 persen pada kuartal IV.
Tren ini diperkirakan berlanjut hingga 2027 dengan kenaikan rata-rata 40–45 persen secara tahunan (YoY).
Penurunan harga baru diproyeksikan terjadi pada 2028 seiring bertambahnya kapasitas produksi, meskipun besaran penurunannya sangat bergantung pada laju pertumbuhan permintaan AI.
Sementara itu, Gartner memperkirakan harga gabungan DRAM dan SSD akan melonjak hingga sekitar 130 persen sepanjang 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi ini diperparah oleh strategi penyedia layanan cloud (hyperscaler) yang, menurut Jefferies, telah mengamankan sekitar 50 persen kapasitas produksi memori global melalui kontrak pasokan jangka panjang (dua tahun) dengan pembayaran uang muka sekitar 40 persen.
Akibatnya, pasokan untuk pasar perangkat konsumen menjadi semakin langka dan tertekan.
Perlu dicatat, tidak semua pihak menerima penjelasan tersebut. Pada Juni 2026, sekelompok konsumen dan pelaku usaha kecil mengajukan gugatan perwakilan kelompok (class action) di Pengadilan Distrik AS untuk Northern District of California terhadap tiga produsen memori terbesar dunia (Samsung, SK Hynix, dan Micron).
Para penggugat menuduh ketiga produsen tersebut secara terkoordinasi membatasi pasokan DRAM konvensional sehingga mendorong kenaikan harga.
Hingga saat ini, perkara tersebut masih berlangsung dan belum ada putusan pengadilan, sehingga tuduhan tersebut belum terbukti secara hukum.
Terlepas dari hasil perkara nantinya, gugatan ini menunjukkan bahwa industri DRAM , yang sangat terkonsentrasi pada sedikit produsen, terus menjadi perhatian serius regulator dan otoritas persaingan usaha.
Yang membayar adalah lapisan paling bawah
Di sinilah persoalannya menyentuh Indonesia. Riset Omdia menunjukkan bahwa biaya komponen memori kini menyerap hampir 60 persen biaya material ponsel dengan harga di bawah 400 dollar AS, bahkan melampaui 64 persen untuk ponsel di bawah 99 dollar AS.
Ketika dua pertiga biaya perangkat terserap pada satu kategori komponen, hampir tidak ada lagi ruang gerak untuk rekayasa atau optimasi desain.
Akibatnya, komponen lain seperti prosesor, layar, baterai, dan kamera harus membagi sisa anggaran yang hanya tersisa sepertiganya.
IDC memproyeksikan pengiriman ponsel global turun 13,9 persen menjadi 1,09 miliar unit pada 2026, penurunan terbesar yang pernah tercatat.
Di sisi lain, harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) diproyeksikan melonjak hingga rekor 550 dollar AS, naik sekitar 100 dollar AS dibandingkan tahun sebelumnya.
IDC menilai kenaikan biaya memori, ditambah meningkatnya biaya energi dan logistik, mendorong produsen mengurangi volume produksi serta memfokuskan portofolio pada perangkat dengan harga lebih tinggi.
Akibatnya, era smartphone ultra-murah mulai berakhir, sementara segmen di bawah 100 dollar AS yang sebelumnya menyumbang lebih dari 170 juta unit pada 2025, semakin tidak layak secara ekonomi untuk dipertahankan.
Pemantauan CNBC Indonesia di ITC Kuningan pada Januari 2026, mengonfirmasi bahwa tren krisis komponen global juga berdampak langsung pada pasar domestik.
Kenaikan harga paling signifikan terkonsentrasi di ponsel segmen Rp 1 juta sampai Rp 2 juta, dengan nominal kenaikan berkisar Rp 50.000 sampai Rp 600.000, tergantung pada merek dan model.
Saat ini, ponsel murah bukan barang konsumsi di negara berkembang. Itu adalah titik akses internet pertama, dompet digital pertama, dan alat kerja pertama bagi jutaan orang.
Survei Sharing Vision IT Business Outlook pada Juli 2026 terhadap 3.280 responden mencatat penetrasi QRIS 99,7 persen dan mobile banking 91 persen. Seluruh capaian itu berdiri di atas satu asumsi diam-diam, yaitu ponsel murah tetap murah.
Asumsi itu sedang diuji. Pembangunan infrastruktur AI global, sebagian, dibiayai oleh pajak tak tertulis atas kelompok yang paling tidak mampu membayarnya.
Enam langkah untuk perusahaan Indonesia
Saya merangkumnya menjadi satu kata yang mudah diingat: MEMORI.
Mapping. Hitung satu angka saja, yaitu persentase biaya operasi tahunan Anda yang terpapar harga memori.
Petakan menjadi tiga lapis: belanja perangkat keras, tagihan cloud, dan harga pokok produk yang Anda jual.
Di bawah 3 persen, ini bukan urusan direksi. Namun jika di atas 10 persen, ini harus menjadi agenda rapat direksi bulan depan.
Efisiensi. Memori mahal mengubah ekonomi optimasi perangkat lunak. Pekerjaan yang dulu tidak layak kini menghasilkan.
Kompresi data, format kolumnar untuk analitik, pembersihan cache berlebih, dan right-sizing instans.
Untuk beban kerja AI: kuantisasi model, manajemen KV-cache yang disiplin, dan berhenti memakai model raksasa untuk pekerjaan kecil. Di banyak organisasi, penghematan terbesar datang dari sini, bukan dari negosiasi harga.
Modalitas kontrak. Daya tawar kini telah sepenuhnya beralih ke pemasok. Ubah horizon kontrak pengadaan dari tahunan menjadi dua sampai tiga tahunan.
Minta jaminan alokasi, jangan hanya jaminan harga. Beli bersama lewat asosiasi industri atau grup usaha agar volume Anda relevan di mata distributor.
Optimasi beban kerja. Cloud bukan lagi tempat berlindung. Kenaikan biaya memori akan tetap mengalir ke tarif layanan cloud, meskipun biasanya lebih kecil dibandingkan kenaikan harga komponen secara langsung.
Beberapa penyedia cloud bahkan telah memperingatkan potensi kenaikan tarif sekitar 5–10 persen akibat lonjakan harga RAM dan SSD.
Pilah, jangan migrasi total ke satu arah. Beban kerja yang stabil dan berumur panjang sering kali lebih ekonomis dijalankan pada infrastruktur sendiri yang sudah dimiliki.
Sedangkan beban kerja yang berfluktuasi tajam tetap lebih murah disewa. Basis data terkelola dan lapisan caching adalah titik paparan tertinggi, tinjau 2 hal tersebut terlebih dulu.
Refresh cycle. Perpanjang siklus penggantian perangkat kerja dari tiga tahun menjadi empat sampai lima tahun. Hidupkan program perbaikan dan penggunaan kembali.
Satu aturan sederhana: jika perangkat keras dibutuhkan sebelum semester kedua 2027, beli sekarang. Jika sesudahnya, tunda.
Alasannya sederhana: berbagai proyeksi analis menunjukkan harga memori diperkirakan tetap tinggi sepanjang periode tersebut, sehingga penundaan pembelian untuk kebutuhan jangka pendek justru berpotensi meningkatkan biaya.
Inovasi produk. Bagi yang berjualan perangkat, jangan lagi hanya menjadikan kapasitas RAM sebagai pembeda utama produk.
Kapasitas memori sekarang adalah biaya, bukan diferensiasi murah. Dan jangan buru-buru meninggalkan segmen bawah.
Ketika pemain global menarik diri dari kelas Rp 2 juta ke bawah, terbuka ruang bagi model bisnis yang berbeda: perangkat berspesifikasi memori rendah yang ditopang arsitektur awan, program tukar tambah, pembiayaan mikro perangkat, atau layanan yang memang dirancang ringan di RAM 4 GB.
Krisis ini mempersempit pasar bagi yang meniru, dan memperluas pasar bagi yang merancang ulang.
Ada satu hal yang membuat siklus ini berbeda dari siklus memori sebelumnya. Siklus lama digerakkan permintaan konsumen, sehingga naik turun mengikuti daya beli rumah tangga.
Siklus ini digerakkan belanja modal segelintir perusahaan yang sedang berlomba membangun kecerdasan buatan, dan daya beli mereka nyaris tanpa batas dalam jangka pendek.
Selama perlombaan itu berlangsung, perusahaan Indonesia mengantre di barisan yang sama dengan hyperscaler global, tanpa daya tawar yang sebanding.
Menyadari posisi itu dengan jernih adalah langkah pertama. Merancang ulang struktur biaya, kontrak, dan produk agar tidak bergantung pada kembalinya harga lama adalah langkah kedua.
Empat puluh tahun laba dalam satu tahun memang angka yang mengesankan. Namun angka itu, pada akhirnya, hanyalah cara lain untuk mengatakan bahwa dunia sedang membayar jauh lebih mahal untuk barang yang sama.
Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2026/07/30/16412987/meroketnya-harga-memori?page=all#page2.
Editor : Sandro Gatra
—
Informasi Perusahaan:
PT Sharing Vision Indonesia
Jl. Anggrek No.47, Cihapit, Bandung, Jawa Barat 40114