Focus Group Discussion “Leveraging AI for Cybersecurity” | Insight

1 Juli 2026, pukul 13:10–14:55 WIB · ITB Innovation Park, Summarecon, Bandung.

Sesi diskusi panelis FGD “Leveraging AI for Cybersecurity” di ITB Innovation Park.

Pada Rabu 1 Juli 2026, Team Sharing Vision berkesempatan berkunjung ke Innovibes DKST ITB 2026, dan mengikuti Focus Group Discussion bertajuk “Leveraging AI for Cybersecurity” berlangsung di ITB Innovation Park pada 1 Juli 2026. Forum ini mempertemukan tiga sudut pandang yang jarang hadir bersamaan: akademisi, praktisi perbankan, dan penegak hukum. Sejak menit-menit awal, satu tesis menonjol. Kecerdasan buatan sebenarnya bukan teknologi baru; yang berubah adalah statusnya. AI kini menjadi komoditas yang bisa dipakai siapa saja, termasuk para pelaku kejahatan. Kondisi inilah yang oleh para narasumber disebut era AI against AI.

Kesimpulan diskusi terasa konsisten dari awal sampai akhir. Teknologi secanggih apa pun tidak akan cukup selama faktor manusia diabaikan, dan pertahanan yang kokoh harus dirancang sejak awal, bukan ditambal belakangan. Catatan ini menyarikan jalannya forum beserta implikasinya bagi pemimpin bisnis, pimpinan teknologi informasi, dan pengambil kebijakan.

Forum digelar sebagai bagian dari ekosistem inovasi Institut Teknologi Bandung yang melibatkan ITB Innovation Park, Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST), serta School of Business and Management (SBM) ITB, dengan dukungan mitra pengembangan seperti Asian Development Bank dan PRIMESTeP. Diskusi dipandu Pak Sonny Rustiadi, S.E., M.B.A., Ph.D., CBAP dari SBM ITB, dan menghadirkan tiga narasumber lintas sektor.

  • Ir. Yudistira Dwi Wardhana Asnar, S.T., Ph.D., Senior Lecturer di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, membawa perspektif akademik dan teknis.
  • Wisnu Adi Pratama, S.Kom., M.M., M.Kom., IT Strategy & Enterprise Architecture Bank BJB, membawa perspektif praktik di industri perbankan.
  • AKP Eko Wahyu Bintoro, S.H., M.Kom., perwira Polri berlatar Bareskrim dan forensik digital yang juga menempuh studi doktoral di STEI ITB, membawa perspektif penegakan hukum.

Perpaduan ketiganya memberi gambaran yang utuh. Ancaman siber masa kini baru dapat dipahami sepenuhnya bila ditinjau dari tiga sisi sekaligus: cara kerja teknologinya, posisi industri sebagai sasaran, dan penanganan hukum atas kejahatannya.

Ketika AI Menjadi Komoditas

Pak Yudistira membuka diskusi dengan sudut pandang yang menyegarkan. Bagi kalangan informatika, katanya, AI sama sekali bukan barang baru. Pergeseran yang benar-benar penting justru terletak pada satu hal: AI telah menjadi komoditas. Teknologi ini tidak lagi eksklusif milik para ahli, melainkan dapat dijangkau komunitas yang jauh lebih luas.

Perubahan status itu berdampak langsung pada keamanan siber. Dahulu, pekerjaan memantau serangan, menangkalnya, dan menangani insiden dilakukan manusia secara berkala. Kini, dengan otomasi dan kemampuan AI bekerja mandiri, porsi keterlibatan manusia tinggal sekitar 30 persen, sementara prosesnya berlangsung lebih cepat dan lebih sering. Di titik inilah sifat pedang bermata dua muncul. Bila dipakai pihak yang benar, pertahanan menguat; bila jatuh ke tangan yang salah, tim keamanan justru makin kewalahan. Pak Yudistira menyebutnya era AI against AI.

Ia menggambarkan situasi ini sebagai perlombaan senjata, sebuah arm race. Jika dulu jeda antara ditemukannya sebuah celah dan hadirnya alat untuk mengeksploitasinya bisa mencapai tiga bulan, sekarang jeda itu menyusut menjadi hitungan sehari. Perkiraannya, angka itu akan mendekati nol pada 2027. Karena itu, memasang firewall di lapisan terluar tidak lagi memadai. Sistem harus dibangun aman sejak tahap perancangan.

Kesiapan Teknologi dan Batasnya

Dari sisi teknologi, Pak Yudistira menilai perangkat keamanan komersial papan atas, seperti yang ditawarkan Palo Alto atau Check Point, sudah lama membenamkan AI dengan kemampuan analisis dinamis. Pendekatan lama yang semata mengandalkan aturan baku dianggapnya usang. Meski begitu, kesiapan teknologi tidak otomatis menjamin keamanan, sebab penyerang memakai senjata yang sama. Ia juga mengingatkan bahaya yang lebih personal. Foto wajah tampak depan bisa direkonstruksi lewat deepfake untuk menembus verifikasi identitas, video pun kini dapat dipalsukan, dan foto yang memperlihatkan sidik jari sebaiknya dihindari karena biometrik tidak bisa diganti bila bocor, berbeda dengan kata sandi. Pesannya sederhana: setiap orang perlu menjaga kebersihan digital, atau cyber hygiene.

Perbankan: Kepercayaan Nasabah dan Prioritas pada Manusia

Pak Wisnu menyoroti taruhan utama industrinya, yakni kepercayaan nasabah. Sebelum era AI, pemantauan transaksi banyak bertumpu pada aturan baku dan proses manual. Sekarang AI mempercepat deteksi, termasuk terhadap varian serangan yang belum pernah dikenali, sekaligus memangkas pekerjaan manual. Ia mencatat bahwa sejak terbitnya ketentuan Otoritas Jasa Keuangan pada 2022, fungsi keamanan siber wajib berdiri terpisah dan independen dari fungsi teknologi informasi.

Di jajaran sistem, yang paling vital menurutnya adalah Fraud Detection System untuk menangkap transaksi mencurigakan, ditopang Security Operation Center berbantuan AI yang menangani ribuan serangan setiap hari. Ekosistem pendukungnya pun tumbuh. Vendor lokal untuk aplikasi verifikasi nasabah mulai bermunculan, kolaborasi antarbank berjalan lewat Asosiasi Bank Daerah, dan adopsi komputasi awan menyesuaikan aturan main perbankan. Namun pesan yang paling ia tekankan bukan soal perkakas. Sehebat apa pun teknologinya, tanpa kesadaran pengguna yang memadai sistem tetap bisa jebol. Karena itu ia menempatkan faktor manusia di urutan pertama, dengan ISO 27001 sebagai acuan. Ancaman terbaru yang ia soroti cukup mengganggu, yaitu penipuan lewat telepon yang merekam lalu meniru suara korban.

Penegakan Hukum: Menutup Celah Pemalsuan Identitas

Pak Eko datang dengan bekal lapangan sebagai penyidik forensik sekaligus kandidat doktor di STEI ITB. Perhatiannya tertuju pada pemalsuan identitas. Prinsip yang ia pegang, the right man behind the gun, menegaskan bahwa teknologi itu netral dan dampaknya bergantung pada tangan yang memakainya. Bila dulu pengenalan nasabah dilakukan manual, kini verifikasi bisa membaca chip pada KTP melalui NFC, lalu mencocokkannya dengan pengenalan wajah. Riset yang ia kerjakan mengarah ke infrastruktur publik digital, sebuah gagasan identitas tunggal untuk beragam layanan seperti pinjaman dan kesehatan, dengan keamanan yang tetap dijaga. Ia menyinggung tata kelola data yang masih setengah jalan, misalnya KTP sudah elektronik tetapi dalam praktik masih kerap difotokopi. Ancaman ransomware yang memburu nama pengguna dan kata sandi juga ia angkat, berikut mitigasinya lewat kode sekali pakai dan verifikasi identitas yang lebih kuat.

Pak Eko memperkuat argumennya dengan peragaan langsung. Ketika sebuah KTP dipakai orang yang bukan pemiliknya, pengenalan wajah menolak; sebaliknya, saat pemilik sahnya yang diverifikasi, datanya langsung cocok dengan catatan Dukcapil pada chip. Ia menautkannya dengan perkara yang pernah ia tangani. Foto pada sebuah KTP diganti di percetakan, lalu dipakai membuka rekening di bank lain dan memindahkan dana lewat RTGS. Kerugiannya menembus puluhan miliar rupiah, dan celahnya sesederhana pencocokan foto yang masih dikerjakan tangan.

Antusiasme peserta pada sesi tanya-jawab; seorang penanya dari Sharing Vision menyampaikan pertanyaan kepada panelis.

Tanya-Jawab dari Kursi Pendengar

Forum ini hidup oleh pertanyaan dari lantai. Beberapa di antaranya menyentuh persoalan sehari-hari yang terasa dekat, baik bagi organisasi maupun individu.

Seorang peserta, Nur Islami Javad, alumni SBM ITB dari Sharing Vision, menanyakan apakah di era yang makin canggih kita perlu memisahkan dua ponsel, satu khusus untuk rekening dan satu untuk komunikasi, atau satu ponsel masih cukup aman. Panelis sepakat bahwa satu ponsel sudah memadai selama penggunanya disiplin. Yang menentukan bukan jumlah perangkat, melainkan kebiasaan. Hindari menekan tautan sembarangan, membuka lampiran mencurigakan, dan mengangkat telepon dari nomor asing, sebab penipu kini memakai teknologi perekam untuk meniru suara. Manfaatkan pula fitur pemeriksa reputasi tautan dan pemblokiran berkas yang sudah tersedia di banyak layanan, dan bila terlanjur menekan tautan yang meragukan, segera bersihkan perangkat serta periksa kembali akun-akun penting.

Seorang mahasiswa ITB mengangkat risiko lain, yaitu foto yang diunggah ke media sosial bisa diambil pihak tak bertanggung jawab dan diolah untuk mencuri data atau identitas, lalu bagaimana cara melawannya. Jawaban panelis berlapis. Perkecil peluang dengan menyetel akun media sosial ke mode privat dan mengenali foto berisiko; wajah tampak depan bisa diolah untuk menembus verifikasi, sedangkan foto yang menampakkan sidik jari berbahaya karena biometrik tak bisa diganti bila bocor. Bila akun palsu telanjur muncul, laporkan secepatnya ke platform, meski penelusuran pelaku memang sulit karena registrasi kartu seluler masih bisa memakai identitas orang lain. Akarnya tetap sama, yaitu kesadaran dan kebersihan digital, dengan acuan standar seperti ISO 27001.

Moderator mengarahkan diskusi ke soal kesiapan, yakni di antara deteksi kecurangan, deteksi penyusupan, analitik perilaku, dan intelijen ancaman, area mana yang paling siap menerapkan AI, khususnya di sektor yang sangat teregulasi seperti perbankan. Menurut panelis, produk keamanan komersial terkemuka sudah lama menyematkan AI, sehingga pendekatan berbasis aturan baku dinilai ketinggalan zaman. Namun kesiapan itu tidak menjamin kekebalan, sebab penyerang pun bersenjatakan AI. Di perbankan, yang paling siap sekaligus paling menentukan adalah Fraud Detection System untuk membaca transaksi janggal, ditopang Security Operation Center berbantuan AI yang setiap hari menyaring ribuan serangan.

Adapun soal verifikasi identitas dijawab lewat peragaan langsung, yakni bagaimana AI menutup celah pemalsuan KTP yang selama ini mengandalkan pencocokan foto secara manual. Pendekatan yang ditunjukkan menggabungkan pembacaan chip KTP melalui NFC untuk memastikan keaslian, lalu mencocokkannya dengan pengenalan wajah. Bila KTP dipakai orang lain, verifikasi gagal; bila oleh pemiliknya, data langsung cocok dengan catatan kependudukan. Cara ini menutup celah lama pada pencocokan foto manual yang pernah dieksploitasi untuk membuka rekening dan memindahkan dana, dengan kerugian puluhan miliar rupiah.

People, Process, Technology

Bila seluruh diskusi diringkas, keamanan siber pada era AI adalah proses adaptasi yang tak pernah selesai dan bertumpu pada tiga elemen yang harus berjalan seiring. Yang pertama adalah teknologi yang adaptif: pertahanan digerakkan AI dan dirancang aman sejak awal. Yang kedua adalah proses dan tata kelola yang matang, mencakup kepatuhan pada regulasi dan standar, pemisahan fungsi keamanan, penguatan sistem deteksi kecurangan, serta verifikasi identitas yang tangguh. Yang ketiga, dan justru kerap terlupakan, adalah manusia yang waspada, yang kesadarannya dibangun lewat edukasi berkelanjutan.

Sebagai penutup, forum mengangkat semangat Triple Helix, yaitu kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah. Kalangan kampus memerlukan akses ke persoalan dan data nyata, bukan sekadar kumpulan data lama, agar solusinya sesuai dengan perilaku masyarakat Indonesia. Industri membutuhkan lulusan yang siap kerja sekaligus ruang untuk riset bersama dan magang. Dari sisi penegak hukum, penekanannya jatuh pada pembuktian yang ilmiah dan model kerja sama yang membawa manfaat bagi banyak pihak.

Tentang Sharing Vision

PT Sharing Vision Indonesia adalah perusahaan riset dan konsultasi teknologi informasi yang berdiri di Bandung sejak 2001. Dengan pengalaman lebih dari dua dekade, kami menyediakan layanan konsultasi dan solusi TI, pelatihan dan sertifikasi, serta penyediaan talenta digital. Lebih dari 100 klien dari sektor perbankan, keuangan, telekomunikasi, energi, kesehatan, BUMN, dan pemerintahan telah memercayakan kebutuhannya kepada kami. Kami berkomitmen mendampingi transformasi digital dan pertumbuhan berkelanjutan para klien, sekaligus turut memperkuat ekonomi inovatif Indonesia.


Informasi Perusahaan:
PT Sharing Vision Indonesia
Jl. Anggrek No.47, Cihapit, Bandung, Jawa Barat 40114

Shopping cart0
There are no products in the cart!
Continue shopping
0