Pesantren Startup 2018: A-Z Memulai Bisnis Zaman Now


3 tahun terakhir ini merupakan tahun kebangkitan entrepreneur zaman now di Indonesia. Bermunculan ribuan startup (usaha rintisan) baru dalam berbagai kategori. Untuk kategori teknologi finansial saja sudah lebih dari 200 startup muncul dalam 2 tahun terakhir. Semakin kokohnya startup di Indonesia terlihat dari munculnya Empat Unicorn asli Indonesia, yaitu Gojek, Bukalapak, Tokopedia dan Traveloka.

Di era digital ini, teknologi banyak membantu bisnis. Banyak startup bermunculan, di segmen transportasi, ecommerce, hospitality, dan di berbagai sektor ekonomi. Semakin banyak irisan, semakin banyak bisnis model baru yang ditawarkan.

https://drive.google.com/file/d/1mLoOvJNEQlpu8PSIzKfw-lhyV4aUl23K/

Era kemunculan startup dengan bisnis model kekinian muncul karena terjadinya pergeseran kegiatan belanja kebutuhan, transportasi, dan berbagai kebutuhan lainnya di masyarakat hingga 90% menuju online. Dalam surveynya terhadap 808 responden di akhir 2017, 90% masyarakat sudah membeli tiket pesawatnya online. 72% melakukan booking hotel secara online. Pembelian pulsa dan token prabayar sudah mencapai 60% online. Belanja makanan dan minuman sudah mencapai 33% online. Belanja buku, hobi, koleksi berkisar 32% online. Bahkan pembelian tiket konser, sudah 72% online. Tiket bioskop, 28% online. Belanja Fashion dan mode, 22% online. Dan yang lebih dahsyat lagi, rata-rata nilai pengeluaran atau belanja secara online bila dibandingkan secara tradisional atau konvensional, jumlahnya hampir sama.

https://drive.google.com/open?id=1Wkb42HhYRGt4Rgbbdo4EOiJwLTWoJF-q

Salah satu pertanyaan kunci saat membangun usaha di zaman now adalah, Bagaimana menawarkan sesuatu yang dibutuhkan masyarakat di waktu yang tepat. Salah satu kuncinya ada di Data. Data sangat membantu dalam mengambil keputusan. Membuka bisnis. Lebih yakin ketika melakukan sesuatu. Dengan Big Data, entrepreneur dapat melihat perilaku pelanggan, kekuatan brandnya, bahkan melakukan ‘tes ombak’ terhadap produk-produk barunya.

https://drive.google.com/file/d/195KT1Xt4ko8Qxz1ohA9HSpNcbJzaWgLS/view?usp=sharing

Pesantren Startup sendiri digagas oleh Nur Islami Javad (Jeff), CoCEO dari BIM (Bandung Initiative Movement), juga Chief DEF (Digital startup, Ecommerce dan Fintech) Sharing Vision Indonesia. BIM sendiri merupakan wadah pencarian para entrepreneur muda yang baru mau mulai di Bandung.

https://drive.google.com/open?id=1tkTmZoXYm2NC4OmPpkb2tGSjYIx9JeVh

Konsep dasar dari Pesantren Startup adalah sharing secara utuh wawasan dunia Startup atau bisnis pemula bagi yang baru mulai atau akan memulai, yang kebanyakan merupakan para siswa, mahasiswa, fresh graduate, bahkan masyarakat umum. Adapun secara umum yang diajarkan di Pesantren Startup adalah wawasan fundamental (Bisnis, digital teknologi, kolaborasi), kemudian wawasan creativepreneur, membangun startup, product development, hingga sharing pengalaman selama menjalani kehidupan berwirausaha.

Acara yang diselenggarakan di Bandung Creative Hub, Jl. Laswi no. 7, Bandung, ini dimeriahkan dengan kehadiran Cofounder dari rising start startup di Indonesia: Gojek dan Kitabisa.com. Selain itu, diramaikan juga oleh startup-startup dari Bandung yang tidak kalah berprestasi. Sebut saja Halallocal, juara dunia Startup di British akhir 2017. Labtek Indie, saat ini merupakan salah satu legenda di Bandung ketika berbicara seputar pencarian ide. Sative Crew, dengan Isma Nurmala sebagai Iconnya, merupakan salah satu model usaha zaman now: Instapreneur. Hadir juga Paman Apiq, Top Indonesia Youtube Educator 2017 dengan jutaan Pageview. Belum lagi model-model bisnis yang unik seperti Inagri, platform untuk menghubungkan petani dengan pebisnis kuliner. Cyberlabs, yang memberdayakan anak-anak SMK yang terkadang kurang diterima di professional sehingga menjadi jagoan dan dibutuhkan. The Local Enablers, yang memberdayakan petani-petani dan masyarakat di daerah-daerah di Jawa Barat, menjadi angin segar bagi desa-desa. Saat ini Local Enablers sudah  menelurkan lebih dari 20 Startup kelokalan.

Event yang diselenggarakan hanya dalam waktu 4 jam ini, dimeriahkan oleh 24 orang pembicara, 7 host startup, 47 startup yang berkolaborasi. Institusi Akademik sangat dibutuhkan untuk memberikan wawasan utuh. Disini ikut berkolaborasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjajaran (Unpad), Politeknik Negeri Bandung (Polban), dan Telkom University (Tel-U). Selain itu, didukung oleh puluhan elemen dari ekosistem startup asli Bandung seperti BIM, Gojek (Jakarta), Kitabisa.com (Jakarta), Sharing Vision, The Local Enablers, Paman Apiq, Sative Crew, Inagri, Halallocal, Labtek Indie, WIT Indonesia, Cyberlabs, Co-Learning Space, Loolin.co.id, Madiena Virtual CFO, Starthub.id, Startup Bandung, Kembangin.social, Bobobox, NgaduIde, Finansialku.com, Nuala Kitchen, HidroponikBdg, Videodesign.ch, Indonesian Bankers Club, EggQ, Tripisia, IDSF (Indonesian Startup Founder), Indocis, ID-CERT, Hebring.store, dan Innovation Factory (Singapore). Acara ini dihadiri 400 peserta dari wilayah Bandung, Bogor, Jabodetabek, hingga kabupaten seperti Subang, Indramayu, juga daerah jauh seperti Bali, hingga National University of Singapore.

Mengapa wawasan fundamental tentang startup penting? Diantaranya adalah, startup tidak melulu aplikasi. Banyak sekali bisnis model yang bisa berkembang cepat zaman sekarang atau scale up dengan bantuan digital teknologi. Paling sederhananya, sebut saja Instagram, Facebook, Bukalapak, Tokopedia, Gofood, merupakan salah satu channel untuk berjualan di zaman now. Nuala Kitchen, 100% menjual brownies dan kue-kuenya di jagat maya, dengan hasil yang tidak main-main. Ribuan brownies diluncurkan setiap bulannya. Belum lagi kolaborasi kelokalan, FruitsUp berhasil berkolaborasi dengan petani manga di desa-desa di Majalengka, untuk menghasilkan Minuman Puree Mangga. Saat ini produksinya sudah belasan ribu botol dan beredar di supermarket di Bandung dan sekitarnya. Amorina, lebih jauh lagi. Startup ini melakukan penelitian terhadap Spirulina sebagai salah satu bahan yang sangat baik sebagai suplemen pembantu diet. Saat ini eksposure Amorina sudah sampai ke tingkat internasional. Startup teknologi pun tidak kalah menjanjikan. Saat ini Jeff sendiri bersama Sharing Vision sedang fokus diantaranya membangun kapabilitas Big Data yang dapat digunakan untuk rekan-rekan startup di Indonesia (bigdatasharingvision.com). Sehingga, kedepan para anak muda khususnya di Bandung memiliki tools untuk membantu pengambilan keputusan yang lebih riil, tidak hanya insting.

Ada lebih dari 17 ribu pulau di Indonesia, lebih dari 200 juta penduduk, 26 sektor ekonomi, 16 kategori ekonomi kreatif (Musik, Kuliner, Kriya, Film, Animasi, Games, Fashion). Bandung sebagai kota kreatif, didukung oleh iklim pendidikan dan kota yang sangat kondusif sangat mungkin menjadi salah satu jantung bermulanya startup-startup zaman now.

See all related posts (15)

Produk Terkait