Operator Bukan Ancaman Bagi Perbankan

Topics : etc

Sumber foto: http://static.guim.co.uk

Pandangan bahwa operator Seluler adalah ancaman bagi perbankan dalam bisnis micropaypent sangat tidak tepat Masuknya operator seluler seharusnya justru menjadi peluang bagi dunia perbankan untuk melakukan sinergi dalam pengembangan bisnis tersebut.

Demikian diungkapkan Chief of Telematics Research Institute Sharing Vision, Dimitri Mahayana Bandung, Selasa (28/6) malam. Menurut dia, umumnya layanan uang elektronik (e-money) yang sukses dikelola bersama oleh perbankan dan operator telekomunikasi.

“Keduanya memiliki kompetensi yang berbeda dan justru bisa saling melengkapi dalam bisnis ini. Aneh kalau perbankan takut. Harusnya mereka saling merangkul,” kata Dimitri.

Operator telekomunikasi, menurut dia, memiliki keunggulan dari segi coverage dan infrastruktur, sedangkan perbankan dari kompetensi finansial. Karena sama-sama memiliki keunikan kompetensi, menurut dia, keduanya sulit untuk saling memasuki dunia satu sama lain de-ngan hasil maksimal.

“Operator telekomunikasi akan sangat sulit membangun kompetensi seperti perbankan. Begitu sebaliknya. Di sinilah pentingnya sinergi,” katanya.

Contoh e-money dan layanan pengiriman uang (remittance) yang sukses dikelola bersama oleh perbankan dan operator telekomunikasi adalah M-Pesa di Kenya.

Sepanjang 2010, jumlah transaksi M-Pesa mencapai 4 juta-5 juta dolar AS, dengan lebih dari 95 juta pelanggan dan sekitar 11.000 merdiant. Penetrasi M-Pesa di negara tersebut bahkan sudah menjangkau masyarakat miskin perdesaan, dengan total revenue 2010 mencapai Rp 135 juta dolar AS.

“Contoh sukses sinergi operator telekomunikasi dan perbankan juga bisa dilihat di Singapura, Filipina, Jepang, dll.,” kata Dimitri

Dari segi jumlah dan nilai transaksi, sejauh ini layanan e-money milik perbankan masih menjadi jawara di Indonesia, dengan menguasai sekitar 90 persen. Bank Indonesia memperkirakan, hingga Mei 2011, pengguna e-money dari 11 penerbit di Indonesia mencapai 10 juta.

Dari 11 penyelenggara, 5 di antaranya adalah kalangan perbankan yang terdiri atas 4 bank umum dan 1 Bank Pembangunan Daerah (BPD). Sementara untuk non-perbankan terdiri atas 5 operator telekomunikasi dan 1 perusahaan nonbank.

Data BI menyebutkan, jumlah e-money yang beredar pada akhir April lalu mencapai 9,81 juta unit, naik 24 persen dibandingkan dengan akhir tahun lalu, 7,91 juta unit. (A-150)*”

* Dari Pikiran Rakyat 1 Juli 2011

Produk Terkait