Hacker Meningkat Layanan E-Banking Harus Waspada


JLN.CITARUM (GM) – Cyber Crime atau kejahatan dunia maya pada tahun 2013 mendatang disinyalir akan terus meningkat. Hal itu seiring dengan meningkatnya tekhnologi dan aplikasi infomasi tekhnologi. Terkait itu perbankan pun perlu lebih memproteksi sistem keamanan jaringannya, jangan samapi di bobhol para Hacker.

“Pada dasarnya hacking dan cyber-crime akan meningkat pesat seiring dengan perkembangan tekhnologi, tentunya itu harus diantisipasi, khususnya dunia perbankan, karena saat ini sudah terjadi peralihan serangan,” jelas Pengamat IT dari Sharing Vision, Dimitri Mahayana kepada wartawan, Minggu (23/12/12).

Dipaparkan Dimitri, tipe serangan pada teknologi informasi terus rerevolusi. Pada tahun 1980 an, serangan dilakukan secara fisik (physical), tahun 1990-an tipe serangan mengarah pada jaringan, tahun 2000-an serangan banyak dilakukan melalui email, aplikasi dan wireless, dan pada tahun 2010-an, serangan security banyak dilakukan melalui client-side, mobile dan social networking.

Bahkan berdasarkan sumber Trustwave Global Security Report 2012, sebanyak 61,7 % infiltrasi pencurian data dilakukan dengan metode remote access application.

“Enkripsi algoritma GSM sudah berhasil dibongkar sejak tahun 2008. Hal ini berarti GSM sudah tidak aman lagi untuk transaksi elektronik. Bahkan di Amerika, sebuah bank mengupdate aplikasi banking, setelah ditemukan flaw pada aplikasi Android dan IPhone yang digunakan untuk mengakses layanan bank.

Bahkan para pengguna smartphone yang canggih pun perlu untuk berhati-hati. Staf vodacom membantu sindikat scam SMS banking , dengan cara men-divert SMS notifikasi sehingga berhasil membobol Rp 433 juta,” jelasnya.

Kondisi tersebut jelas sangat memprihatinkan, dan tentunya hal tersebut pun tidak menutup kemungkinan terjadi di Indonesia. Terutama untuk layanan SMS Banking.

“Kita juga masih ingat bahwa industri konten hancur karena kasus sedot pulsa. Hal ini juga terkait dengan kurangnya standar security,” katanya.

Tidak hanya itu saja, saat ini di pasar gelap atau black market, terdapat trojan yang dapat digunakan untuk menyerang layanan e-banking dan dihargai antara US $ 500 sampai US $ 4000 atau sekitar Rp 50 juta. Para pengguna kartu ATM, dan kartu debit harus berhati-hati karena serangan terhadap ATM tidak pernah berhenti.

Trend global untuk kasus skimmed ATM, rata-rata merugikan hingga $ 50.000 per ATM, dengan rata-rata uang tercuri sebesar $458 per korban.

“Di Indonesia sendiri, pada tahun 2010, terdapat sekitar 222 nasabah dari 3 bank mengalami pencurian saldo dengan modus skimming ATM dengan total kerugian mencapai Rp 5.248.500.000. Bahkan seorang hacker di Amerika telah berhasil membuktikan bahwa ATM dapat di hack hanya menggunakan flashdisk,” katanya.

Postingan Terkait

Produk Terkait