Ketika Batasan Daring dan Luring Kian Samar

Topics : Digital Business & Technology, Expert Article

Bagaimanapun, membaca publikasi di harian Kompas edisi Senin, 15 Juni 2015, tentang konflik dalam dunia luar jaring (luring) imbas makin melekatnya dunia digital dan dalam jaringan (daring), sikap pertama penulis dan kita semua, tentu mengutuk kekerasan yang terjadi.
Apapun alasan dan pembenarannya, manakala tindakan destruksi menjadi pilihan, adalah manifestasi kebebalan yang terus berulang di negeri ini. Padahal kita tahu, dengan legacy musyawarah mufakat dari pendiri bangsa ini, selalu ada cara komunikasi yang resolutif.

Pun demikian, dalam waktu bersamaan, kita menjadi semakin teryakinkan dengan efek praksis maupun kekuatan makna dari judul Kompas kala itu: “Dunia Digital Semakin Lekat”. Bahwa kehidupan luring masyarakat Indonesia kian intim dengan aplikasi daring.

Hal ini keniscayaan. Simak data Kementrian Komunikasi Informatika Maret 2015 lalu yang menyebutkan, netizen di Indonesia hingga awal tahun ini mencapai 75 juta orang atau sudah melewati Jawa Barat sebagai provinsi terbesar di Indonesia dengan 46 juta orang.

Dengan tingkat penetrasi 29 persen dari jumlah penduduk negeri ini, 30 juta di antaranya pun merupakan pengguna ponsel cerdas (smartphone) dan komputer tablet. Atau mereka yang terlibat aneka perubahan cepat ini karena aplikasi intim selalu dalam genggamannya.

Internet citizen (netizen) Indonesia pun sudah masuk kategori heavy user, karena 40 persen waktu melek dari hidupnya (tujuh jam dari 18 jam) terkoneksi dunia maya dengan rincian 4-5 jam di komputer personal dan sisanya di smartphone/tablet. Luar biasa!

Kemudian, dengan cerdasnya, situasi ini diakomodir baik oleh banyak startup. Misalnya konsep web 2.0 ala kebanyakan media sosial, ini merubah pola komunikasi menjadi many to many dari broadcast media. Pola ini sungguh selaras dengan cara perubahan sosial pasca-perang dingin dunia.

Kita, masyarakat Indonesia – terutama generasi baby boomer – pasti ingat jika dulu TVRI dan RRI selalu menjadi broadcast media yang mendominasi kehidupan sosial.

Lalu, datang era reformasi yang demokratis dan dua arah interaksi, maka wajar jika laman kontemporer digemari publik. Ketika hal ini terus bergulir, maka kita tahu, manusia urban hari ini di tanah air sangatlah sulit mengelak dari aplikasi internet dan smartphone.

(Dr. Dimitri Mahayana)

(Dr. Dimitri Mahayana)

Simak data tiga tahun terakhir di Indonesia. Netizen tahun 2013 mencapai 71,2 juta dengan pengguna ponsel cerdas 38,5 juta (penetrasi 54 persen), tahun 2014 88,1 juta dan pengguna ponsel cerdas 57,7 juta (65 persen), serta proyeksi 110 juta dan pengguna ponsel cerdas 71,6 juta (65 persen).

Ini selaras data global manakala nyaris separuh penduduk dunia periode 2013-2015 sudah terhubung ke internet yakni 2,69 miliar (atau 38 persen dari jumlah warga dunia di tahun 2013), 2,89 miliar (atau 40,4 persen di tahun 2014), serta estimasi 3,07 miliar (atau 42,4 persen di tahun 2015).

Pengguna telepon cerdas di dunia sendiri, mengacu data Emarketer, sudah mencapai 1,31 miliar tahun 2013, 1,6 miliar tahun 2014, serta 1,91 miliar tahun 2015. Jadi, penetrasi internet di dunia umumnya dan Indonesia khususnya, nyata mendorong bertambah banyaknya pengguna smartphone.

Tak perlu heran, jika melihat riset terbaru kami di Sharing Vision menunjukkan, 61 persen responden pernah melalukan online booking/ticketing (umumnya untuk layanan transportasi) dengan gejala pertumbuhan cukup signifikan dibandingkan yang pernah mereka lakukan di tahun 2014.

Untuk reservasi pesawat, 78 persen responden mengaku pernah melakukannya atau naik dari tahun 2014 sebanyak 63 persen. Reservasi kereta 60 persen (naik dari tahun lalu 58 persen), reservasi hotel 46 persen (naik dari tahun lalu 35 persen), dan ini yang utama: Reservasi kendaraan motor/mobil 8 persen (naik dari tahun lalu 1 persen).

Maka, premis awalnya adalah aplikasi daring, termasuk di dalamnya booking online, tak akan mungkin dibendung ketika terjadi perubahan perilaku masyarakat Indonesia yang dalam genggamannya lekat kepemilikan ponsel cerdas imbas naiknya literasi teknologi informasi komunikasi.

Kehidupan Tradisional Lainnya

Akan tetapi, di sisi lain, kita pun takkan bisa mengenyahkan kehidupan tradisional yang konvensional. Kemapanan sistem yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun dalam kehidupan ini, tidaklah mungkin dengan serta merta dienyahkan atas nama modernitas.

Untuk itulah, kita bisa sedikit memahami jika kemudian terjadi pengusiran ojek digital oleh ojek tradisional yang menguasai wilayah. Atau kasus penangkapan lima sopir Uber, seperti dipublikasikan Kompas.com, 19 Juni 2015, oleh kepolisian kerjasama dengan Organda.
Apalagi secara formal legal, faktanya memang ada pelanggaran hukum Uber atas UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pasal 378 KUHP tentang penipuan, pasal 28 UU ITE tentang berita bohong, bahkan sampai pencucian uang.

Menurut kepolisian, pelanggaran utama adalah lima sopir berlaku seperti taksi semisal menerima dan mengantarkan penumpang via pesanan (aplikasi seluler) namun kendaraan tidak plat kuning, tidak ada argometer, dan tidak ikut ketentuan tarif atas/bawah yang sudah disepakati.

Terlebih, secara global pun, regulator sejumlah kota besar dunia menindak pidana dan akhirnya melarang Uber beroperasi. Contohnya pada 9 Maret 2014, Pengadilan Niaga Madrid melarang Uber beroperasi karena pengemudi tidak memiliki izin resmi.

14 Agustus 2014 (Pemda Berlin dan Hamburg melarang karena ketiadaan jaminan asuransi-keamanan bagi penumpang), 9 Desember 2014 (Mendagri India melarang karena sopir Uber diduga memerkosa penumpang), dan 26 Mei 2015 (Uber dilarang pengadilan Kota Milan, Italia).

Bukan tidak mungkin, jika hal ini tidak cepat diantisipasi pihak terkait, friksi antara mekanisme sistem daring dengan luring ini bisa makin membesar. Hari ini kita melihat dalam layanan transportasi, ke depan bisa terjadi di sektor ritel, jasa pendidikan, dan banyak lagi.
Pada titik ini, baiknya kita mencontoh harmonisasi paduan luring dan daring seperti dialami Rob McEwen, CEO Goldcorp Inc, sebuah perusahaan pertambangan emas asal Toronto, Kanada. Tahun 1999, ketika tambang andalannya di Red Lake selama 50 tahun sekarat, dia ikut konferensi di MIT.

Selain sekarat, perusahaannya menghadapi pemogokan, utang, lonjakan bea produksi, dan kondisi pasar tak kondusif. Seperti ditulis Don Tappscot (Wikinomics : How Mass Collaboration Changes Everything, 2004), McEwen kemudian tercerahkan ketika ada satu sesi pembicara yang tak sengaja membahas Linux. Dia mendengar bagaimana Linus Torvald, pendiri Linux, dan sekelompok volunteer membangun sistem peranti lunaknya.

Torvald dijelaskan si pembicara sebagai orang yang berani dan sengaja melempar source coding­-nya ke dunia, sesuatu yang tak dilakukan Microsoft, yang menariknya keputusan itu mengundang ribuan programmer anonim dan tak saling kenal untuk bersama membangun.

Sepulangnya ke Toronto, dia mengumpulkan seluruh manajemen dan meminta mereka memberikan semua dokumen geologi pertambangan perusahaan dari tahun 1948. Lalu, dia meminta dunia mengatakan di mana harus menemukan 6 juta ounce emas.

Meski para manajernya sangsi dan khawatir, pada Maret 2000, tantangan itu dibuka Goldcorp ke umum dengan tawaran hadiah 575.000 dollar AS bagi partisipan yang berhasil memberikan metode terbaik. Respon langsung tinggi karena ada 1.000 peminat dari 50 negara di dunia.
Meski peserta tak pernah datang ke Toronto, berbekal paduan sainstifik mutakhir, teridentifikasi 110 target pertambangan emas baru di Red Lake dari peserta. Hasil akhirnya? Rob McEwen bukan hanya menemukan 8 juta ounce emas, tapi juga memangkas masa riset 3 tahun!

Belajar dari Goldcorp, kita perlu bersegera menemukan titik keseimbangan. Misalnya mau mengedukasi pelaku tradisional untuk berbenah mengikuti dunia yang bertansformasi ke arah digital. Sebaliknya, mereka yang konvensional bisa mengajarkan pengalaman dan pengetahuan produk/jasa yang lebih baik.

Kita pun harus lekas memperoleh kehadiran regulasi yang transparan dan akomodatif. Friksi yang terjadi adalah karena pelaku usaha bergerak lincah melayani masyarakat dalam mekanisme pasar baru, yang karena barunya itulah, maka muncul wilayah hukum yang abu-abu.

Kita harus percaya, bahwa dunia yang terus berbenah dan berubah ini, tak bisa dipasrahkan begitu saja pada mekanisme pasar! Kian samarnya batasan domain daring dan luring sejatinya membutuhkan pengaturan antisipatif nan visioner, yang bisa menerka arah perubahan dengan baik.

Dr. Dimitri Mahayana adalah Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Bandung. Bisa dihubungi melalui dmahayana@sharingvision.com

Artikel ini juga dapat Anda baca melalui link berikut :