Membangkitkan Esensi Sektor TIK di Indonesia Mutakhir

Topics : etc, Expert Article

Momen Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-107 pada 20 Mei 2015 ini, dalam konteks bidang teknologi informasi komunikasi (TIK), sepatutnya menjadi momen kontemplasi bersama guna mencuatkan potensi bangsa yang harus terus dioptimalkan.

Dalam pandangan penulis, salah satu potensi hebat dari awal tahun ini hingga sekarang adalah kian sempurnanya electronic channel/e-channel yang merepresentasikan kian lekatnya kehidupan masyarakat Indonesia dengan berbagai aplikasi TIK. Kita sebut saja yang paling mudah ditemukan dan terus menggelinding, adalah kian banyaknya pengguna ponsel cerdas (smartphone) sekitar 30 juta orang. Mereka pastinya termasuk populasi eksponensial netizen yang saat ini diperkirakan mencapai 75 juta orang. Angka yang setara 29% penduduk Indonesia ini hampir separuhnya berasal dari usia produktif 12-34 tahun, dengan akses rata-rata internet harian tujuh jam (lima jam melalui komputer personal serta dua jam menggunakan perangkat mobile –terutama ponsel cerdas).

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada Maret lalu ini selanjutnya menekankan, motivasi tertinggi netizen adalah media sosial dengan pengguna aktif 62 juta orang dengan 52 juta di antaranya akses media sosial via gawai rerata tiga jam per hari. Urutan kedua dan ketiga adalah pengguna mencari informasi serta mengirim/menerima surel masing-masing 48 persen. Urutan keempat pengunduhan, chatting, dan belajar rata-rata 47 persen dan sisanya bermain game dan sejenisnya di bawah 35 persen.

(Dimitri Mahayana)

(Dimitri Mahayana)

Situasi ini konkruen, sebangun dengan jumlah pengguna telekomunikasi seluler di Indonesia yang diperkirakan sudah tembus angka 300 juta orang atau melampaui jumlah total penduduk. Kominfo memperkirakan setiap satu pengguna ponsel rata-rata memiliki tiga SIM card. Melihat demikian tingginya intensitas data awal ini maka menjadi tak mengherankan jika e-channel saat ini bukan sekadar gaya hidup (lifestyle), namun sudah menjadi pilihan hidup (way of life) yang menyenangkan, produktif, dan berfaedah banyak.

Misalnya mesin electronic data capture (EDC) yang totalnya se-Indonesia berjumlah 737 ribu terminal, sebagian kini banyak digunakan pedagang kaki lima! Penggunaan SMS banking dan internet banking saat ini diproyeksikan masing-masing 23,65 juta dan 12 juta pengguna.

Kemudian geliat uang digital alias e-money tampak pada layanan moda transportasi seperti Transjakarta dan KRL Komuter. Pembayaran tol saat ini meliputi pembayaran di 30% gardu tol otomatis di Indonesia sudah berbasis e-money, juga pembayaran parkir elektronik di stasiun KRL Jabodetabek dan parkir on the street mencapai 114 titik di Jakarta –yang baru-baru ini diresmikan pemerintah DKI Jakarta.

Survei Sharing Vision Maret lalu juga memperlihatikan fenomena menarik e-channel lainnya yakni e-dagang, yakni responden menyatakan pernah menjual barang dan membeli barang di media sosial masing-masing mencapai 30% dan 50% dengan Facebook terbanyak digunakan. Selain itu, 49% responden pernah menjual barang melalui laman e-commerce seperti OLX, Tokopedia, Bukalapak, Kaskus, dll, dan 68% pernah melakukan pembelian di situs tersebut. Dan, dari top 10 e-dagang di Indonesia, 8 diantaranya adalah laman e-commerce yang berkedudukan di Indonesia.

Dr. Dimitri Mahayana adalah Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Bandung. Bisa dihubungi melalui dmahayana@sharingvision.com