Agar Internet Nasional Aman, Indonesia Butuh 7.000 IT Security

Topics : Straight News

Pakar informasi dan telekomunikasi (IT) security Budi Raharjo menyatakan Indonesia membutuhkan sedikitnya 7.000 ahli IT security untuk memonitoring lalu lintas internet.peretas_100929220412

“Perlu sedikitnya tujuh ribuan IT security untuk memonitoring internet di negeri ini, itu perlu untuk mencegah cyber crime,” kata Budi Raharjo pada seminar nasional Indonesia Cyber Crime Summit (ICCS) 2014 di Kampus ITB Bandung, Kamis.

Menurut Budi, sepertihalnya kesehatan dengan 70 juta pengguna internet, maka Indonesia dihadapkan dengan wabah kejahatan cyber di tengah krisis sumber daya manusia (SDM) di bidang security.

Ia menyebutkan, jumlah SDM IT security di Indoneia masih terbatas. Padahal menurut dia itu sangat diperlukan baik itu sarjana, magister mapun doktor.

“Kenyataan SDM IT security jumlahnya jauh dari yang diharapkan, ini tantangan. Indonesia butuh minimal tujuh ribuan IT security,” katanya.

Sementara itu Direktur Sharing Vision Dimitri Mahayana menyebutkan, tahun 2013 menurut hasil penelitian Sharing Vision serangan kejahatan cyber di Indonesia menempati urutan pertama negara yang dibidik 42 ribu serangan harian.

“Indonesia telah menjadi negara yang memiliki risiko tinggi keamanan teknologi dan informasi,” kata Dimitri Mahayana.

Menurut dia, pemerintah diharapkan bisa mengarahkan terbentuknya perangkat hukum, pasukan cyber dengan SDM ribuan ahli IT security dan hubber untuk monitoring lalu lintas informasi di internet yang melibatkan multi departemen.

“Perlu ada upaya dari pemerintah untuk mengarahkan terbentuknya perangkat hukum dan SDM IT security guna memonitoring lalu lintas informasi di internet,” katanya.

Sementara itu Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusu Bareskrim Brigjen A Kamil Razak menyatakan ada banyak kendala dalam penegakan hukum yang setiap bulannya dihadapi dengan kejahatan cyber.

“Masih ada keterbatasan SDM bidang IT security, kepoliian terus melakukan upaya pengembangan SDM anggaran dan melengkapi sarana prasarana teknologi informasi pendukung,” kata Kamil Razak menambahkan.

Sumber