Google & RIM Bangun Data Center di Indonesia? Kenapa Tidak!

Topics : An Insight

Jakarta – Bisnis data center digadang-gadang bakal jadi salah satu primadona di Indonesia. Terlebih, kebijakan pemerintah mendukung hal tersebut, dimana para raksasa teknologi asing ‘dipaksa’ untuk membangun data centernya di Tanah Air.

Menurut Dimitri Mahayana, Chairman Sharing Vision, PP 82 tahun 2012 tentang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) menetapkan para penyelenggara layanan publik berbasis sistem elektronik seperti Research In Motion (RIM), Google dan lainnya berkewajiban membangun data center dan disaster recovery center di Indonesia.

Berikut bunyi Pasal 17 dan 39 PP 82 tahun 2012 UU ITE:

Pasal 17

1. Penyelenggara Sistem Elektronik untuk pelayanan publik wajib memiliki rencana keberlangsungan kegiatan untuk menanggulangi gangguan atau bencana sesuai dengan risiko dari dampak yang ditimbulkannya.

2. Penyelenggara Sistem Elektronik untuk pelayanan publik wajib menempatkan pusat data dan pusat pemulihan bencana di wilayah Indonesia untuk kepentingan penegakan hukum, perlindungan, dan penegakan kedaulatan negara terhadap data warga negaranya.

3.Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban penempatan pusat data dan pusat pemulihan bencana di wilayah Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh Instansi Pengawas dan Pengatur Sektor terkait sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan setelah berkoordinasi dengan Menteri.

Pasal 39

1.Penyelenggara Agen Elektronik wajib:memiliki rencana keberlangsungan bisnis termasuk rencana kontingensi yang efektif untuk …..
f. memastikan tersedianya sistem dan jasa Transaksi Elektronik secara berkesinambungan; dan
g. memiliki prosedur penanganan kejadian tak terduga yang

“Dilihat dari aturan tersebut sudah jelas bahwa perusahaan seperti RIM, Google, dan lainnya, harus membangun data centernya di Indonesia,” jelas Dimitri, saat ditemui detikINET beberapa waktu lalu.

Memang hal itu tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, melainkan bertahap. Pada tahun 2013 misalnya, menjadi fase pendaftaran dan persiapan sedangkan masa peralihan bisa sampai lima tahun lamanya.

Nah, pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah Google cs mau membangun data center di Indonesia? Kenapa Tidak!

Dimitri memaparkan, suka tidak suka, jika ingin tetap beroperasi di Indonesia maka vendor global itu harus mengikuti aturan yang ada, terlebih RIM si pembesut BlackBerry. Vendor asal Kanada itu dinilai harus sadar diri bahwa Indonesia menjadi pasar yang sangat penting bagi kelanjutan bisnisnya.

Sebab, pamor BlackBerry di negara lain terus tergerus. Sementara di Indonesia, BlackBerry masih cukup digandrungi di berbagai kalangan pengguna.

Alasan berikutnya adalah, RIM & Google cs tak bisa berkilah jika di Indonesia tidak tersedia layanan data center yang reliable. Buktinya, para pemain data center global seperti Equinix telah masuk ke Indonesia. Selain itu, pemain lokal pun rasanya tak kalah.

“Dengan kedatangan pemain global, maka para pemain (data center) lokal terpaksa harus meningkatkan layanannya dan memastikan keberadaan Disaster Recovery Center untuk layanan-layanannya di dalam Indonesia juga,” lanjut Dimitri.

Pria yang juga dosen ITB ini menambahkan, kebutuhan data center di Indonesia dipengaruhi berbagai faktor. Mulai dari peningkatan broadband, IT lifestyle dan IT services, penggunaan transaksi perbankan elektronik, e-learning, penerapan layanan IT dalam logistik, air-port, sea-port, dry-port, penerapan layanan IT dalam perhotelan dan tourism, penerapan layanan IT dalam kedokteran dan farmasi (e-health), dan lainnya.

Sharing Vision memprediksikan pertumbuhan bisnis data center di Indonesia tahun 2012 (YoY) adalah double digit atau di atas 10%. “Sementara untuk periode 2013-2015 nilai bisnis data center di Indonesia bisa menyeberangi Rp 2,5 triliun.

Survey Sharing Vision ke berbagai perusahaan di Indonesia menunjukkan adanya kecenderungan perusahaan di Indonesia untuk menggeser pengadaan disaster recovery centernya dari inhouse menjadi outsource dan colocation.

“Namun satu hal yang khas, tampaknya perusahaan-perusahaan besar belum terlalu berani menggeser data center atau disaster recovery center ke dalam layanan berbasis cloud, walaupun secara global hal ini terjadi,” pungkasnya.

Langkah Pemain Global

Equinix, perusahaan data center asal Amerika Serikat, pada Oktober 2012 lalu mulai mengekspansi bisnisnya di Indonesia dengan menghadirkan data center kelas Tier 4 yang biasa digunakan oleh raksasa internet global seperti Google, Facebook, dan lainnya.

Dalam kemitraannya dengan PT Data Center Infrastructure (DCI), Equinix akan mengoperasikan sebuah data center baru di Jakarta yang bisa melayani pelanggan lokal dan global dengan layanan co-location, interkonektivitas, dengan menggunakan Platform Equinix.

Data center baru ini akan dibangun dalam beberapa tahap dan akan menyediakan kapasitas sekitar 6.000 m2 dan 1.250 cabinet saat tahap satu selesai dibangun di akhir 2012.

“Hal ini memungkinkan pelanggan untuk memperluas jejak data center mereka di Asia Pasifik dan di seluruh dunia. Sebab, sejauh ini kami sudah memiliki 105 lokasi data center yang tersebar di 13 negara,” imbuh Clement Goh, Managing Director, Equinix South Asia.

Selain Equinix, pemain data center asing lain yang telah mengekspansi Indonesia adalah Cyber Complete Secure Facilities (CSF) yang berasal dari Malaysia.

Penyedia data center kelas Tier 3-4 ini telah menangani lebih dari 200 pengadaan data center di Malaysia, Vietnam, Thailand dan berencana untuk berekspansi ke China dan India

Cyber CSF sendiri adalah perusahaan joint venture CSF Group bersama PT Karya Graha Nusantara untuk membangun fasilitas data center di Jakarta.

Sumber