Bergandeng Tangan Membangun E-Money di Indonesia

Topics : Expert Article, IT Governance

Sumber foto: http://americanvoicedk.files.wordpress.com

Oleh: Dimitri Mahayana (Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision)

Ada sebuah statement menarik yang disampaikan dirut sebuah bank BUMN besar, Juni lalu, yang dikutip sejumlah media massa. Menurutnya, ancaman terbesar kalangan perbankan di masa mendatang berasal dari operator telekomunikasi.
Ambil contoh layanan electronic payment. Dengan diinisiasi T-Cash dari Telkomsel beberapa tahun silam –dan sudah diikuti layanan sejenis: Dompetku Indosat dan XL Tunai– bertransaksi elektrik selevel kartu debet/kredit dari perbankan, kini telah hadir di masyarakat.
Memang, pengguna e-money operator telekomunikasi masih jauh dari achievement kawan-kawan industri perbankan. Namun total pelanggan industri seluler di Indonesia akhir 2010 lalu diperkirakan 200 juta nomor. Atau hampir tiga kali dari nasabah perbankan 80 juta nomor!
Meski agak sulit dikomparasi secara linear, faktanya pencapaian pelanggan telekomunikasi seluler hanya dicapai dalam waktu sekitar 15 tahun. Sementara stagnansi klien perbankan adalah akumulasi historis perbankan Indonesia yang berusia lebih dari satu abad.

Dengan situasi demikian, sang dirut tadi kemudian meminta regulasi yang komprehensif kepada Bank Indonesia dalam pengaturan pembayaran elektrik ini. Secara humanis, apalagi jika melihat data riil pelanggan, kekhawatiran sang dirut adalah wajar dan tidak berlebihan.
Namun demikian, ada sejumlah data dan fakta yang memperlihatkan semacam sisi paranoid kalangan perbankan. Pertama, layanan keuangan elektrik yang fenomenal di dunia justru merupakan hasil kolaborasi harmonis operator seluler dan perbankan.
MPesa (M kependekan dari mobile, Pesa berarti money–bahasa Swahili), alias mobile money, yakni
layanan transfer uang via SMS yang diberikan Safari Telecom, Kenya, yang merupakan hasil kerjasama dengan jasa keuangan Hawali Banking.
Dengan jumlah penduduk 40 juta, 78% tinggal di desa, 75% mata pencaharian utama agraris, GDP per kapita US$ 1600, penetrasi mobile hampir 51%, dan perbandingan pemegang rekening bank dan pengguna seluler sebesar 1:3, MPesa berhasil menjangkau 80% penduduk Kenya.
MPesa tahun lalu mempunyai sedikitnya 9,5 juta pelanggan. Mereka diperkirakan mencetak pendapatan sebesar US$113 juta di akhir tahun 2010, dengan volume transfer mencapai US$1,36 miliar, serta rata-rata melayani 2 juta transaksi setiap harinya!
Layanan G-Cash, yang diinisiasi Globe Telecom dari Filipina, juga telah digunakan 42% masyarakat di negeri itu (setara dengan 1,3 juta pelanggan) saat melakukan pembayaran mikro. Ini juga hasil kolobarasi dengan industri perbankan disana.
Tentu saja, jangan lupakan pula layanan pionir mobile payment yakni Oshaifu Ketai dari NTT DoCoMo Jepang yang telah jadi trendsetter global. Ini juga sama, layanannya hadir setelah dari awal terjalin aliansi dengan kongsi bank BUMN di negeri matahari terbit itu.
Mari kita jujur mengakui bahwa operator telekomunikasi memiliki keunggulan dari segi cakupan layanan, infrastruktur, dan penguasaan pasar konsumer yang lebih baik. Namun mereka tak memiliki kompetensi yang memadai di bidang manajemen keuangan.
Sebaliknya, kalangan perbankan adalah penguasa kompetensi layanan finansial yang memiliki keterbatasan dalam cakupan layanan yang menembus hingga kamar tidur, infastruktur yang relatif tanggung, dan penguasaan konsumer yang baru membaik belakangan ini.
Melihat standing position demikian, menurut hemat penulis, keduanya sama-sama memiliki keunikan kompetensi. Otomatis, keduanya akan sulit untuk saling memasuki dunia satu sama lainnya dengan hasil yang maksimal.
Kita lihat data-data Bank Indonesia terbaru. Hingga April 2011 lalu, jumlah e-money beredar mencapai 9,81 juta unit atau naik 24% dibandingkan posisi akhir tahun lalu sebanyak 7,91 juta unit. Dari jumlah itu, 90% pangsa-nya berasal dari layanan perbankan.
Bank Indonesia memperkirakan, pengguna e-money hingga Mei 2011 berasal dari 11 penerbit di Indonesia dengan jumlah klien 10 juta. 11 penerbit itu 5 perbankan (terdiri atas 4 bank umum dan 1 Bank Pembangunan Daerah), 5 operator telekomunikasi, dan 1 perusahaan nonbank.
Nampak jelas disparitas antara industri perbankan dan seluler. Meski potensinya besar, faktanya layanan keuangan dari operator masih merangkak pelan. Namun raihan 9 juta pengguna electronic payment nasabah perbankan juga bukan angka yang bagus.
Dengan kata lain, jika operator telekomunikasi ngotot masuk layanan keuangan sendirian, bisa jadi layanan yang ada sekedar portofolio produk saja. Industri perbankan yang masuk layanan mobile banking juga sulit mencapai sukses industri secara keseluruhan.
Memang, akan sulit menihilkan atmosfer kompetisi (langsung atau tidak langsung) dari kedua layanan ini. Akan tetapi, globalisasi dan kemajuan ilmu juga telah banyak mengajarkan kisah sukses di belahan dunia manapun atas konsep competition-cooperation.
Kedua, layanan elektrik yang efisien justru akan meningkatkan industri perbankan secara khusus dan ekonomi negara keseluruhan. Rujukan poin ini bisa mengacu riset World Bank yang dipadukan survei CGAP/Consultative Group to Assist the Poor.
World Bank menyebutkan bahwa pengurangan biaya pengiriman uang sebesar 2-5% dapat meningkatkan remitansi 50-70%, sehingga meningkatkan kegiatan ekonomi nasional. Estimasi ini juga diperkuat survey CGAP, lembaga riset global bidang microfinance.
Mereka mengeluarkan hasil riset bahwa kemudahan pembayaran mikro elektrik efektif meningkatkan ekonomi nasional, misalnya pendapatan masyarakat pedesaan di Kenya meningkat 5%-30% sejak mereka mulai menggunakan MPesa.
Dan Indonesia adalah negara yang memiliki potensi amat besar mewujudkan kedua riset tersebut. Dengan jumlah penduduk hampir 250 juta, tersebar di ribuan pulau (ditambah pertumbuhan pekerja migrain), maka layanan elektrik efisien bisa sukses besar.
Kita bandingkan lagi dengan data Bank Indonesia. Jumlah total remitansi hingga April 2011 mencapai US$2,225 miliar atau meningkat dibandingkan April 2010 US$2,222 miliar. Jumlah total pengiriman uang sepanjang 2010 sendiri mencapai US$6,73 miliar.
Di sisi lain, jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri per Februari 2010 mencapai 2,68 juta jiwa. Berapa devisa yang mereka berikan kepada negara dan keluarganya? Pada akhir tahun 2009 saja, sudah mencapai US$6,6 miliar. Angka ini pasti kian naik.
Sharing Vision memprediksi, pada 2012, penggunaan mobile remittance akan mencapai 47 persen padahal riset kami tahun 2007 masih 0%. Akhir kata, apabila melihat dua paparan poin ini, maka tak ada lagi alasan industri kian bergandeng tangan membangun e-money di Indonesia! (**)

*Dipublikasikan di Majalah Infobank Juli 2011